Kamis, 03 Desember 2009

21-12: OTHAK ATHIK GATHUK (LAGI)


Sebenarnya saya nggak begitu suka OAG (othak athik gathuk), tetapi kegiatan ini terus saja memancing rasa penasaran saya.

Adalah mas Dwiarto Setiabudi, ketika selesai "pengajian" di rumahnya dengan nonton bersama film Kiamat 2012 dilanjutkan dengan diskusi ala "saur manuk" seperti biasanya, tiba-tiba beliau nyeletuk:
"Kata bangsa Maya, kiamat itu kan 21 Desember 2012. Nah, sekarang mbok ya coba dibuka al Qur'an surat 21 dan ayatnya 12 (bulan Desember), kira-kira cocok apa enggak ya?"
Kami pun lantas pada tertawa karena hoby OAG-nya ini kumat lagi.

Walaupun dengan rasa tak percaya tetapi weladalah, surat 21 (al Anbiya') dan ayat 12 itu mengisyaratkan terjadinya bencana:
"Maka tatkala mereka merasakan azab Kami, tiba-tiba mereka melarikan diri dari negerinya."

Ayat ini seolah mengingatkan adegan pada film tersebut tentang orang-orang yang pada berlarian mencoba melarikan diri. Bahkan tokoh utama film itu pontang-panting berusaha lari dari negrinya yang hancur lebur menuju tempat lain yang lebih aman.

Lebih dahsyat lagi pada surat al Anbiya' tersebut ayat 11-nya berkata,
"Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang zalim yang telah Kami binasakan, dan Kami adakan sesudah mereka itu kaum yang lain (sebagai penggantinya). "

Dari ayat itu tampak bahwa "kiamat" versi al Qur'an tersebut masih akan ada kaum yang diselamatkan. Bukankah dalam film itu juga ada manusia yang diselamatkan mirip kisah Bahtera Nuh (Noah Ark). Kok bisa pas ya ?! Cuma masalahnya, saya tak begitu percaya kalau yang diselamatkan adalah golongan manusia seperti itu.

Menurut para pakar dari LAPAN (Lembaga Penelitian Antariksa Nasional), bencana -walaupun hanya sebatas kiamat teknologi komunikasi akibat badai matahari (solar flare), akan terjadi pada kisaran 2011-2012. Rupanya angka 11 dan 12 ini agaknya angka-angka gawat.Yang cukup menarik adalah betapa negara-negara maju itu-walau cuma fiksi, kelihatannya telah siap dengan akan munculnya bencana yang selalu unpredictable.

Nah, kalau kita malah sibuk mencari dalil tentang nonton film itu halal apa haram ya? Menonton film itu dianggap akan dapat merusak rukun iman yang ke lima. Padahal kita tahu, dengan film itu barangkali kita akan menjadi masyarakat yang sadar bencana. Bukankah justru negri kita itulah negri seribu bencana karena terletak dalam ring of fire.

Dan sudah terbukti bahwa setiap bencana datang ke negri kita maka pemerintah kalangkabut. Mungkin republik ini adalah negri tanpa persiapan. Persiapan untuk menghadapi bencana maupun yang lainnya. Kalau memang begitu, sadarkah kita bahwa negri kita itu negri asal-asalan? Sebuah negri yang "Tanpa pedoman dan tanpa ada kitab yang menerangi". Wadoouuuhh !!!

Jumat, 20 November 2009

KIAMAT 2012

Suatu ketika Ibunya Tama, bertanya ke saya,
"Yah..bagaimana kalau kiamat jadi benar-benar datang?"
"Ya..alhamdulillah kalau jadi datang, saya itu sudah lama nunggunya..!" jawab saya.
Mendengar jawaban saya yang dianggap tidak serius itu maka Ibunya Tama bertanya lagi dengan sengit,
"Lho...Ayah ini gimana to, lha wong kiamat datang kok malah senang" ujarnya dengan sedikit marah.

Saya pun jadi teringat, mungkin Ibunya Tama berpandangan begitu karena menganggap kiamat itu hancur-hancuran. Maklum saja, tiga hari sebelum saya menulis blog ini kami sekeluarga nonton bareng film 2012 yang sedang heboh itu. Akibatnya, pandangan kita umumnya akan mengatakan kiamat itu ya... hancur lebur.

Saya punya pandangan lain. Dilihat dari arti kata kiamat itu berasal dari kata kerja qaama-yaquumu-qiyaamatan yang artinya tegak atau bangun. Sehingga agak aneh kalau pengertiannya kemudian menjadi kehancuran. Pemahaman ini hanya bisa dimengerti bila dalam perubahan suatu peradaban selalu ada yang jatuh dan bangun. Hal ini mirip silih bergantinya malam dan siang. Ketika malam hari "tegak" maka "runtuhlah" siang hari. Begitu juga sebaliknya. Bila Siang hari "hadir" maka "pergilah" malam hari.

Dilihat dari segi sejarah pada masa Rasulullah SAW, ketika itu dakwah beliau menang dan mendapat sambutan luar biasa. Maka bisa dikatakan saat itulah tegak (kiamat) nya peradaban Madinatul Munawwarah, dan bersamaan dengan itu hancurlah peradaban Jahiliyah kafir Qurays. Kondisi ini ternyata sama dengan penjelasan Allah, "Jaa al haqqa wa zahaqa albathil, inna al bathila kaana zahuuqa" (Kebenaran telah datang dan kebatilan telah pergi, sungguh kebatilan itu pasti lenyap).

Ada sahabat saya mas Sigit Ahmadi ternyata punya pandangan menarik. Menurut beliau, kiamat itu sudah terjadi berkali-kali. Sebut saja misalnya peristiwa yang menimpa kaum Nabi Nuh, Kaum 'Ad dan Tsamud dan sebagainya. Disamping ada kehancuran selalu ada saja yang diselamatkan. Apakah ini yang menurut bangsa Maya disebut zaman "pemurnian manusia".
Tetapi yang pasti peristiwa jatuh dan bangun itu adalah sunnatullah yang pasti berlaku. Itu sudah seperti pergiliran siang dan malam, Nuur (cahaya) dan Dzulumaat (kegelapan). Itulah mungkin pengertian beriman kepada Yaum al qiyamah yaitu berpandangan dan bersikap hidup dengan ajaran Allah tentang jatuh bangunnya suatu peradaban.

Dalam dialektika yang seperti itulah manusia diminta untuk memilih apakah akan memilih shirat al mustaqim (jalan lurus) ataukah shirat al maghdhub (jalan yang dimurkai Allah) maupun shirat ad dhallin (jalan yang sesat).

Selanjutnya, seorang teman saya bertanya, "Lantas bagaimana tentang angka 2012?"
Saya jawab dengan ringan, "Kalau meramal angka biasanya meleset, tetapi kalau betul saya kira tidak seperti di film-film itu". "Tetapi untuk senam otak ya lumayanlah, yang jelas banyak orang dapat meraup keuntungan akibat informasi ini".

Dan perlu juga harus kita sadari, hancur atau bahkan hilangnya bumi ini di alam semesta ini bukanlah sebuah kerugian bagi alam. Bumi ini dibanding alam semesta adalah ibarat sebutir pasir di pantai yang sangat luas. Apakah kalau hilang sebutir pasir maka akan ada kegoncangan yang signifikan di pantai itu ?

Ah...mengapa kita tak sadar-sadar juga ???
Ya Allah maafkanlah kami ya Allah.....

Senin, 02 November 2009

CICAK BUAYA DAN NYAMUK


Cicak-cicak di dinding
diam-diam merayap
datang seekor nyamuk
hap lha kok buaya


Kabareskrim Polri Susno Duaji melihat keberanian Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memata-matai kepolisian adalah bagaikan tindakan cicak melawan buaya. Hasilnya pasti cicak tak mungkin mengalahkan buaya. Alhamdulillah, Kapolri Bambang Hendarso Danuri sudah minta maaf tentang soal penggunaan istilah ini. Tetapi karena sudah terlanjur popular, agaknya permintaan maaf saja tak cukup.

Cicak melawan buaya telah melahirkan ilmu pasti. Yaitu pasti kalah. Tetapi nanti dulu. Kalau cicaknya dibantu rakyat manusia, buayanya bisa berabe. Buaya boleh saja merasa kuat dengan postur tubuhnya yang besar dan sangar. Tetapi di negara hukum, apalagi bila rakyatnya kritis, logika kekuatan saja tak cukup membuat cicak takut. Maka hati-hatilah kamu wahai buaya.

Cicak walaupun kelihatan lemah ternyata punya kemampuan mengibuli musuh-musuhnya. Dalam keadaan terpaksa binatang yang pandai merayap di dinding itu sering memotong ekornya sendiri demi keselamatan dirinya. Perbuatan ini di biologi di sebut mimikri (?). Lain lagi dengan buaya. Di dunia sastra, binatang ini juga dikenal pandai menipu. Maka muncullah istilah "air mata buaya", yaitu sejenis air mata, tetapi bukan ungkapan kesedihan melainkan hanya kepura-puraan.

Dalam dongeng kancil, buaya dikisahkan pandai menipu dengan cara diam menyaru bagaikan batang kayu hanyut. Reputasi buaya yang lebih besar dan tak mungkin kalah dalam hal tipu menipu muncul juga dalam istilah lawakan: “Buaya lu kadalin, ya..mana bisa…!!?”

Cicak makan nyamuk begitulah adanya. Itulah takdir yang sudah diberikan kepada binatang melata ini. Sehingga saya sering mengatakan kepada Tama anak saya, “Cicak begitu juga kodok adalah obat nyamuk alami yang bisa kesana kemari membantu kita memberantas nyamuk”. Berbicara tentang nyamuk ada hal yang menarik. Bila ditelisik dengan Ilmu Balaghah (Sastra al Qur’an) maka wajhu syabhin-nya sebagaai berikut :
1.Penghisap darah
2.Penyebar penyakit
3.Pengganggu
4.Lahir dari comberan (walaupun ada juga di air yang jernih)

Ciri-ciri ini hampir menyerupai ciri-ciri koruptor
1.Penghisap uang rakyat
2.Penyebar penyakit masalah-masalah sosial
3.Pengganggu ketertiban bermasyarakat

Saya jadi teringat gambaran nyamuk dalam al Qur’an surat al Baqarah :26.
“Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?." Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik”.

Maka lagu cicak agar sesuai dengan “habitat” aslinya

Cicak-cicak di dinding
diam-diam merayap
datang seekor nyamuk
hap lalu ditangkap.


Tetapi tiba-tiba Ibunya Tama yang sering mengikuti berita cicak versus buaya itu bertanya ke saya, “Bagaimana kalau nyamuknya itu ternyata buaya yang sedang over acting ?”
Maka saya pun menjawab dengan enteng, “Ya…hap lalu justru cicak ditangkap..!!!”

Jumat, 23 Oktober 2009

PRESIDEN VS DUKUH


Untuk membandingkan Presiden dan Dukuh saya punya kata mutiara asli susunan saya sebagai berikut :

KESEL NANGING ORA KASIL
(lelah tetapi tiada hasil)
Yang dilakukan orang kecil (rakyat jelata), sudah pontang panting kesana kemari bekerja sangat keras (memeras keringat membanting tulang) tetapi hasilnya sangat kecil. Orang kecil bekerja dengan cara "Endas tak nggo sikil lan sikil tak nggo endas" (Kepala dipakai sebagai kaki dan kaki dipakai sebagai kepala) alias kerja jungkir balik tetapi hasilnya sangat tidak signifikan.

KASIL NANGING ORA KESEL
(hasinya ada tetapi tidak lelah)
Yang dilakukan orang gedhe (pejabat-pejabat tinggi), presiden, mentri, pengusaha besar dll. Manusia yang menurut Robert T Kiyosaki sudah hidup di kuadran IV sehingga mengalami financial freedom.

Gaji Presiden dibanding gaji Pak Dukuh di dusun saya sangat jauh bedanya. Padahal keduanya oleh Allah hanya diberi waktu 24 jam sama persis. Kerajinan Pak Wagimin (Pak Dukuh) di kampung saya tak kalah rajin dengan sang presiden. Dulu waktu pelantikannya tidak memakan uang rakyat bermilyar-milyar seperti para anggota DPR. Padahal kontribusi Pak Dukuh sangat jelas, tetapi mengapa gajinya"harus" sedikit ? Padahal putra-putrinya juga butuh pendidikan dan kesehatan. Dan semua itu bermakna uang. Kalau paradigma pembangunan Nasional masih seperti ini terus maka tujuan nasional "menuju masyarakat adil makmur" itu mustahil tercapai. Nggak percaya ? Buktikan aja nanti....

ORANG BAIK


Ada seorang teman memberi nasehat kepada saya bahwa eksistensi kita sebagai manusia itu akan hampa apabila kita tidak memposisikan sebagai "orang yang baik" dan "orang yang bermanfaat" bagi orang lain. Ya ... bahkan kepada "musuh" kita. Sehingga wajar jika Rasulullah SAW. memberi nasehat, "Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain". Dalam kaitannya dengan itu, teman saya memberi nasehat kalau kamu bertemu seseorang maka lakukanlah minimal empat hal.

Pertama, kalau kita bisa dan memiliki sesuatu maka bantulah orang tersebut.
Kedua, kalau kita yang pertama tidak punya atau tidak bisa maka berikanlahlah nasehat. Siapa tahu kelak nasehat itu kan bermanfaat baginya.
Ketiga, kalau yang kedua kita tidak mampu maka tersenyumlah. Karena senyum adalah shadaqah sekaligus dapat memberi semangat.
Dan terakhir kalau ketiga-tiganya nggak punya dan nggak bisa maka do'akanlah agar orang tersebut dalam kebaikan.

Wah.., kalau semua orang bersikap seperti itu maka rasanya "syurga" itu terasa dekat. Dan tak perlu menunggu ganti presiden dan ganti mentri tujuh kali. Fenomena seperti ini muncul kalau kita mau menginap di hotel berbintang. Sejak dibukakan pintu, check in, sarapan dan sebagainya kita disambut dengan keramahan dan antusias yang tinggi. Yang membedakan adalah para pegawai hotel itu melaksanakan "bisinis keramahan" itu karena uang. Sehingga mungkin bagi para tamu hotel yang datang hal itu indah, tetapi bagai pegawainya merupakan kepura-puraan.

Ada seorang guru saya yang menerangkan bahwa menuju masyarakat adil makmur itu tidak perlu harus sekian periode kita lalui. Sejak orde penjajahan, orde lama, orde, baru dan orde reformasi ternyata tujuan itu tak kunjung tercapai. Sebenarnya "besok pagi" pun masyarakat adil makmur itu dengan mudah akan tercapai. Caranya ? Masing-masing anggota masyarakatnya bersedia untuk berbagi.

Rumusnya :
Yang pandai mengajar yang bodoh
Yang kuat menolong yang lemah
Yang sehat membantu yang sakit
Yang berkuasa menghormati yang tidak berkuasa

maka benarlah firman Allah :
"Dan tolong menolonglah kalian dalan kebaikan dan ketaqwaan dan jangan tolong menolong dalam salah dan dosa"

Nah itulah "syurga dunia akhirat", yang isinya orang baik-baik. Kapan ya itu terjadi ???

Sabtu, 03 Oktober 2009

MISTERI GEMPA DAN TEORI "OAG"

Saya mendapatkan SMS dari keponakan. Isinya memberi tahu bahwa gempa yang melanda di Sumatera Barat itu tepat pada jam 17:16 WIB. Dan setelah saya cek pada harian Kompas ternyata betul. Selanjutnya dalam SMS itu dikatakan bahwa ternyata angka tersebut bersesuaian dengan surat al Isra’ ayat 16. Isinya tentang kehancuran suatu kawasan karena tidak mentaati Allah. Untuk lengkapnya saya kutipkan surat 17 ayat 16 sebagai berikut:

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menta`ati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.”

Menurut ceritanya, konon keponakan saya itu bergetar lantaran takut membaca ayat itu. Selanjutnya dia minta pendapat saya mengenai hal tersebut.

Saya jadi teringat teori kakak saya, yaitu teori OAG (Othak Athik Gathuk). Teori ini selalu menghubungkan peristiwa tertentu dengan hal-hal yang berbau mistis ataupun agamis. Seolah dalam teori ini membedah “pesan-pesan rahasia” Tuhan dalam berbagai peristiwa. Ternyata gejala OAG ini juga melanda dimana-mana. Sebut saja misalnya gambar-gambar yang selalu dikaitkan dengan tulisan Allah dan Muhammad yang muncul di awan, pohon, kulit binatang, kerang, pring pecah dan sebagainya. Menurut sebagian orang peristiwa itu untuk menambah ketebalan Iman.

Lain lagi dengan istri saya, ketika terjadi bencana jebolnya tanggul Situ Gintung ternyata muncul “keajaiban”. Ada sebuah masjid yang masih utuh tegak berdiri, padahal segala bangunan lainnya seperti rumah telah hancur tersapu banjir. Menurutnya, itulah bukti “kebesaran kekuasaan” Allah. Pendapat ini makin diperkuat dengan munculnya sebuah ceramah dari seorang ustadz di sebuah TV swasta yang menyatakan hal itu merupakan bukti “mukjizat” dari Allah. Nah, ketika terjadi gempa di Padang Sumatera Barat ini ada sebuah Masjid bernama Nurul Iman ternyata hancur juga. Kemudian saya berkata pada istri saya, “Hancur atau tidak hancur sebuah masjid itu adalah sunnatullah yang selalu obyektif, dan semua itu sama-sama menunjukkan kebesaran kekuasaan Allah”. Istri saya kelihatannya belum puas atas jawaban saya. “Tetapi begitulah ! Logika Tuhan (God Logic) itu tidak harus selalu sama dengan logika kita manusia yang kadang sangat naif dan lemah” jawab saya lebih lanjut.

Di harian Kedaulatan Rakyat yang terbit di Yogyakarta, pada kolom “Sungguh-sungguh Terjadi” mengaitkan bahwa Gempa Sumatera itu ada hubungannya dengan G 30 S PKI. Keduanya sama-sama terjadi pada tanggal 30 September dan sama-sama memakan korban yang sangat banyak. Bolehlah pendapat itu ya ...!

Ternyata gejala OAG ini tidak hanya melanda kalangan awam tetapi bahkan kalangan akademisi. Sebut misalnya Ustadz Fahmi Basya dalam bukunya Matematika Al Qur’an yang sangat mengagumkan itu, ternyata kadang-kadang ada hal-hal yang ”dihubung-hubungkan yang sebenarnya masih sulit terhubung”. Saya mempunyai CD berbagai hal keajaiban alam yang berkaitan dengan al Qur’an karya Ustadz Fahmi Basya. Sebagian memang benar-benar ”gathuk” (obyektif) tetapi sebagian terlalu dipaksakan. Begitu juga dalam bukunya ”One Million Phenomena”. Dalam buku itu terasa sekali gejala ”OAG” sangat kental. Sebetulnya hal tersebut baik-baik saja, hanya saja kadang menghilangkan jiwa kritis kita terhadap suatu hal.

Bukti yang lain tentang gejala OAG misalnya terdapat pada tulisan Mas Ary Ginanjar Agustian (ESQ Power) penemu dan pelopor training ESQ yang sangat terkenal itu. Secara keseluruhan buku itu sangat bagus dan bermanfaat. Hanya memang karena terkena gejala OAG maka kadang kurang kristis. Misalnya angka ajaib dalam ESQ Ways yang selalu mengacu pada 165. Penjelasannya 1 = Ihsan, 6 = Rukun Iman dan 5 = Rukun Islam. Yang konon katanya angka ini sesuai dengan angka rumah mas Ary Ginanjar. Dan ini diperkuat oleh Ustadz Fahmi Basya yang katanya itu adalah angka ajaib (Matematika al Qur’an). Padahal, kalau kita mau kritis sedikit angka itui tidak tepat.


Angka itu didasarkan pada Hadits Jibril tentang, ”Ma huwal Iman, ma huwal Islam, ma huwal Ihsan”. Yang dilupakan oleh beliau adalah ”matas Sa’ah?”. Padahal lengkapnya hadits itu ada tentang Sa’ah. Sa’ah ternyata ”disembunyikan”, jadi tidak ada angkanya. Nah gimana ini ?!!!

Kamis, 01 Oktober 2009

SALAH, LUPA DAN MEMINTA MAAF

Manusia dalah makhluk sering salah dan lupa. Sebuah peribahasa menyatakan al Insanu makhalul khata' wa nisyan. Salah dan lupa sudah sangat melekat pada diri manusia. Oleh karena itu sebaik-baik manusia bukanlah orang yang tak pernah salah melainkan orang yang pernah salah lalu mau memperbaikinya untuk kembali ke jalan yang benar.

Dalam tradisi bangsa Indonesia, bulan Syawal sering di pakai untuk saling meminta maaf dan memberi maaf. Kebiasaan ini disebut halal bil halal. Di kantor-kantor maupun di kampung-kampung sangat marak kegiatan yang konon asli dari bangsa kita ini. Memang, meminta maaf seyogyanya dilakukan sesegera mungkin kepada orang yang kita sakiti. Tetapi, kadang-kadang ada beberapa ganjalan psikologis yang membuat seseorang enggan sesegera mungkin untuk minta maaf. Maka ditunggulah saat acara syawalan untuk berikrar saling meminta maaf.

Meminta maaf sering dianggap merendahkan diri sendiri. Anggapan bahwa orang menjadi kehilangan muka ketika minta maaf bahkan menjadi turun derajatnya adalah tidak benar. Orang yang punya inisiatif meminta maaf justru menunjukkan orang tersebut berjiwa besar. Apalagi kalau dilakukan oleh seorang atasan kepada karyawannya, majikan kepada buruhnya, guru kepada muridnya, presiden kepada rakyatnya maka tentu akan lebih pas. Dan jangan dibalik. Karena kebiasan selama ini justru yang dibawah meminta maaf kepada yang di atas. Padahal kita tahu kesalahan itu justru lebih banyak kepada mereka yang sedang berkuasa.

Meminta maaf itu mudah dan memberi maaf jauh lebih sulit. Apalagi kalau seseorang merasa di zalimi dengan sangat menyakitkan. Tetapi kalau memberi maaf itu dilakukan, maka jiwa orang itu jauh lebih besar dibanding yang meminta maaf.

Konon, dahulu Rasulullah setiap berangkat ke masjid sering ada seseorang yang selalu meludah dihadapan beliau untuk melecehkannya. Rasulullah tetap ramah dan merasa tidak terganggu atas ulah orang tersebut. Kejadian ini berlangsung cukup lama. Hingga pada suatu saat ketika Rasulullah berangkat ke masjid seperti biasanya, beliau tidak melihat orang yang selalu meludah tersebut. Rasulullah pun bertanya kepada para sahabatnya mengapa orang itu tak kelihatan seperti biasanya. Para sahabat memberi tahu beliau bahwa orang tersebut sedang sakit. Maka sepulang dari masjid, Rasulullah menjenguk orang tersebut seolah seperti sedang merindukannya. Orang yang suka meludah dihadapan Rasulullah pun terharu dan akhirnya minta maaf dan masuk Islam. Subhannallah.

Maaf telah merubah energi kebencian (negatip) menjadi kecintaan (positip). Hal ini akan mengeliminir munculnya hormon kecemasan secara berlebihan yang akan mengganggu metabolisme tubuh. Grafik gelombang otak (brain wave) akan lebih tenang (normal) sehingga memungkinkan seseorang merasakan perasaan lebih bahagia. Kelistrikan tubuh menjadi stabil karena telah mengalami grounding dengan cara saling meminta dan memberi maaf. Kelihatannya sepele memang, tetapi yakinlah dengan cara seperti itu tubuh dan jiwa jauh akan lebih sehat. Insya Allah.

Maka melalui blog yang sederhana ini kami sekeluarga mohon maaf yang sebesar-besarnya. Dan semoga kita semua bahagia. Amien.