Jumat, 08 Januari 2010

MUSIM HUJAN


Hari-hari ini telah memasuki musim hujan. Sekurang-kurangnya ada dua sikap menghadapi keadaan cuaca seperti ini. Bagi petani yang mengharapkan air- seperti petani tanaman padi, pasti menyambut dengan suka cita. Sedangkan, petani tembakau yang mau memanen hasilnya maupun profesi lainnya yang tak mengharapkan hujan, tentu menyambut dengan gundah gulana. Yang satu, hujan disambut seolah kabar gembira, sedang lainnya sebagai kabar kesedihan karena panen akan gagal.

Begitu juga al Qur'an. Ibarat air hujan yang turun dari semesta angkasa (anzalna min as sama'), maka kitab orang Mukmin itu selalu disikapi berbeda: pro dan kontra. Bagi yang setuju, kehadiran al Qur'an adalah nasehat yang luar biasa yang diberikan oleh Sang Pencipta alam semesta. Tentu saja ini sangat diperlukan. Apalagi kalau untuk menghidupkan bumi setelah matinya ( yuhyi al ardha ba'da mautiha ). Al Qur'an, sebagaimana air hujan, mampu menumbuhsuburkan hati yang gersang sehingga menjadi lunak dan menciptakan hidup persaudaraan (allafa baina qulubikum faasbahtum bini'matihi ikhwana).

Di musim hujan ini pulalah, sering ditandai munculnya guruh dan kilat. Guruh dan kilat yang dalam al Qur'an disebut ra'dun dan barqun adalah penanda bahwa hari akan segera hujan. Guruh sangat keras suaranya, sehingga hampir-hampir semua telinga akan mendengar. Begitu juga kilat. Cahayanya begitu menyilaukan mata. Hanya orang-orang yang menulikan telinga dan memejamkan mata sajalah yang tak mampu mendengar dan melihat fenomena luar biasa itu.

Al Qur'an, kritikan-kritikannya sangat menggelegar. Begitu juga ketajaman analisanya sangat memukau. Tetapi, bila manusianya menulikan telinga dan membutakan matanya sendiri, maka gelegar dan kilauan cahayanya tak bermanfaat. Mereka yang seperti itu, oleh al Qur'an dengan pedas disebut sebagai: "mereka itu bisu, tuli, buta dan tak akan kembali kepada kebenaran (sumun, bukmun, 'umyun, fahum layarji'un)".

Walaupun al Qur'an berbicara masalah hujan, kitab 'pedoman jalan lurus' ini bukanlah buku Klimatologi. Fenomena hujan, guruh dan kilat adalah 'cara Allah' mengajarkan kepada kita bagaimana seharusnya menanggapi kehadiran al Qur'an dalam kehidupan kita. Bumi manusia yang keras membatu (kal hijarah) tak akan memperoleh manfaat.

Hujan yang terus turun pada hati manusia yang keras (mbeguguk mutho waton), tak akan meresap masuk kedalam relung jiwa. Dan ini tentu saja tak akan menimbulkan berbagai batang aliran sungai dibawahnya (min tahtihal anhar). Hujan justru tak akan membawa berkah melainkan banjir.

Begitu juga al Qur'an. Bila sikap kita salah dalam menanggapi al Qur'an, apalagi cenderung mengabaikan, maka petaka akan selalu datang seperti yang terjadi pada jaman para nabi dahulu. Al Qur'an ibarat guruh dan kilat, dia adalah kabar gembira (basyiran) sekaligus pemberi peringatan (nadziran).

Wallahu a'lam.

RENUNGAN TAHUN BARU

YANG TELAH LALU BIARLAH BERLALU
YANG SUDAH LALU TAK MUNGKIN KEMBALI
PESAN MBAH BAKIR: YO BEN, YO WIS, YO MBUH !

Jumat, 18 Desember 2009

SEMANGAT HIJRAH

Barangkali Rasulullah sedang mengajarkan teknik aikido, teknik beladiri dengan memanfaatkan tenaga lawan. Atau mungkin sedang mengajarkan adversity quotient, suatu model kecerdasan yang dipakai tatkala menghadapi kesulitan. Tetapi yang pasti, kanjeng nabi Muhamammad itu sedang mempraktekkan isi prinsip "inna ma'al 'u'sri yusra, fa inna ma'al 'usri yusra".

Secara pandangan orang kafir Qurays,nabi keturunan dari silsilah Ismail ini seolah terusir dari negrinya. Padahal, hijrah adalah langkah yang sejak awal sudah direncanakan. Konsep trilogi: iman (pandangan dan sikap hidup), hijrah dan jihad adalah sesuatu yang built in dalam dakwah. Saat hijrah hanyalah masalah pemilihan momentum yang tepat. Sebab Mekah sudah diketahui bukanlah lahan subur untuk tumbuh kembangnya dakwah. Ibarat menyemai benih padi di bedengan, maka ketika dianggap cukup, tanaman padi-padi yang mulai berdaun itu harus dipindahkan (hijrah) ke tempat yang lebih luas dan diatur jaraknya agar "keadilan" terdistribusi dengan baik.

Peristiwa hijrah bukanlah adegan kekalahan dakwah di Mekah, melainkan justru dengan "metode pembiaran" dengan cara hijrah (ditinggalkan) itulah konstruksi masyarakat jahiliyah Mekah akan ambruk dengan sendirinya. Dengan hijrah "kebaikan-kebaikan" yang ada dimasyarakat itu turut pergi. Karena mereka yang turut hijrah adalah mereka-mereka yang terbaik di masyarakat itu. Akibatnya, masyarakat itu menjadi tanpa harapan akan ada perbaikan. Hal ini persis seperti ratapan ibu nabi Isa bernama Maryam yang menyatakan "Kehidupan sudah bagaikan pohon kurma yang sudah tak berpucuk lagi".

Itulah Nabi kita Muhammad al Musthafa, yang mampu merubah "tantangan" menjadi "peluang". Mengganti "semangat pengusiran" menjadi " semangat kelahiran babak baru", sehingga telah lahir sebuah kota yang becahaya gilang gemilang (Madinatul Munawwarah).Peristiwa ini analog dengan proses kelahiran jabang bayi. Kontraksi perut sang Ibu betapapun sakitnya, tetapi justru itulah rahasia kekuatan yang akan mendorong kekuatan bayi untuk lahir. Itulah berkah tersembunyi yang selalu hadir bersama kesulitan ataupun kesakitan.

Dari fakta-fakta sejarah hijrah, rasanya tak mungkin kalau nabi panutan umat Islam sedunia ini tak mengerti analisa SWOT seperti yang dikuasai ahli-ahli manajemen strategi. Nabi Muhammad adalah nabi yang selain sidik (jujur ilmiah), amanah (kredibel), tabligh (komunikator yang baik) juga fathonah (memiliki kecerdasan).Kekuatan ini makin berkilau tatkala berpadu dengan bimbingan Allah berupa wahyu Al Qur'an. Nah, kalau sudah begini Abu Lahab, Abu Sofyan atau yang lain.....tak akan mampu mengalahkannya.

Benarlah kata Nabi Musa, benarlah nasehat Nabi Muhammad untuk umatnya, "La takhof wa la takhzan innallaha ma'ana (jangan gentar, jangan takut. Sungguh Allah dengan ilmu-Nya bersama kita". Selamat tahun baru Hijriyah 1 Muharram 1431 H. Hakuuna matata....innallaha ma'ana.

Kamis, 10 Desember 2009

BANK HUMAZAH LUMAZAH


Sayang, tim penerjemah al Qur'an dari Depag RI tatkala menerjemahkan istilah humazah lumazah dalam surat al Humazah adalah pengumpat lagi pencela. Walaupun terjemah ini dikaitkan dengan sejumlah kisah dimasa turunnya al Qur'an (asbabun nuzul), namun rasanya tak nyambung. Padahal kalau diamati ayat berikutnya yang berbunyi: "yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung" merupakan penjelasan yang amat clear.

Humazah lumazah adalah istilah yang digunakan Allah untuk menyebut orang ataupun lembaga yang kerjanya melakukan penghimpunan harta (baca: uang) sekaligus melakukan berbagai kalkulasi agar harta atau uang itu dapat menciptakan keuntungan. Inilah yang dalam dunia bisnis dikenal istilah uang menciptakan uang.

Bank adalah penjual jasa. Dengan uang ataupun modal yang dimiliki, bank menawarkan kredit kepada nasabahnya. Dari hasil selisih margin antara meminjamkan uang dan menagih kembali uangnya maka lembaga pengumpul harta/ uang ini mendapat untung. Dan inilah yang oleh masyarakat sekarang ini sering dianggap sebagai solusi keuangan. Dengan logika seperti itu lembaga ini seolah menawarkan "mengatasi masalah tanpa masalah" seperti semboyan lembaga Pegadaian.

Adalah Robert T Kiyosaki, dengan sejumlah tulisannya yang terkenal di beberapa bukunya selalu menunjukkan bahwa sukses adalah apabila kita telah mencapai kebebasan finansial (financial freedom). Kita bukan lagi bekerja agar memperoleh uang akan tetapi uanglah yang justru bekerja untuk kita. Kalau berhasil meraih kondisi tersebut maka kita dalam tahap aman secara finansial sehingga tak mungkin miskin. Itulah manusia-manusia yang berada pada kuadran empat.

Berbeda dengan Kiyosaki, al Qur'an dalam surat al Humazah justru menganggap bahwa biang keladi ketimpangan sosial ekonomi itu akibat munculnya lembaga keuangan yang disebut humazah lumazah itu. Kebebasan finansial yang sering dianggap akan menciptakan kelanggengan kekayaan sebaliknya akan menjadi pemicu munculnya fenomena huthomah. Al Qur'an menegaskan,
"dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya";
"sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah".

Apakah gerangan huthamah?
Lagi-lagi terjemahan versi Depag RI ini terasa tak nyambung dengan permasalahan lembaga keuangan. Dalam terjemah ini huthomah itu suatu keadaan ketika manusia dibakar diatas api neraka yang panasnya sampai kehati. Padahal mestinya huthomah itu adalah rangkaian logis dari adanya konflik yang ditimbulkan adanya kesenjangan sosial ekonomi akibat maraknya humazah lumazah. Dengan kata lain, huthomah yang disebut sebagai :"(yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan" itu asalnya justru dari hati-hati manusia yang keras membatu (kal hijarah). Seperti halnya batu, hati yang sama-sama keras apabila saling berbenturan akan terpercik api. Dan itulah neraka Allah (naarullah) untuk mereka pendukung humazah lumazah.

Kehidupan yang sudah berkubang dengan humazah lumazah seperti ini akan menciptakan jebakan hutang (debt trap) yang akan "memanggang" masyarakat dalam persoalannya yang terasa semakin panjang. Maka wajar saja Allah dalam penutupan ayat ini menegaskan akhir model hidup seperti ini adalah, "(sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang". Jadi escaping the debt trap adalah sesuatu yang sulit.

Kisruh bank Century maupun bank-bank yang pernah ada bahkan juga bank-bank internasional di negara besar adalah bukti bahwa sistim humazah lumazah pasti merupakan: "mengatasi masalah dengan menimbulkan masalah".

Wallahu 'alam bi al shawab.

Kamis, 03 Desember 2009

21-12: OTHAK ATHIK GATHUK (LAGI)


Sebenarnya saya nggak begitu suka OAG (othak athik gathuk), tetapi kegiatan ini terus saja memancing rasa penasaran saya.

Adalah mas Dwiarto Setiabudi, ketika selesai "pengajian" di rumahnya dengan nonton bersama film Kiamat 2012 dilanjutkan dengan diskusi ala "saur manuk" seperti biasanya, tiba-tiba beliau nyeletuk:
"Kata bangsa Maya, kiamat itu kan 21 Desember 2012. Nah, sekarang mbok ya coba dibuka al Qur'an surat 21 dan ayatnya 12 (bulan Desember), kira-kira cocok apa enggak ya?"
Kami pun lantas pada tertawa karena hoby OAG-nya ini kumat lagi.

Walaupun dengan rasa tak percaya tetapi weladalah, surat 21 (al Anbiya') dan ayat 12 itu mengisyaratkan terjadinya bencana:
"Maka tatkala mereka merasakan azab Kami, tiba-tiba mereka melarikan diri dari negerinya."

Ayat ini seolah mengingatkan adegan pada film tersebut tentang orang-orang yang pada berlarian mencoba melarikan diri. Bahkan tokoh utama film itu pontang-panting berusaha lari dari negrinya yang hancur lebur menuju tempat lain yang lebih aman.

Lebih dahsyat lagi pada surat al Anbiya' tersebut ayat 11-nya berkata,
"Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang zalim yang telah Kami binasakan, dan Kami adakan sesudah mereka itu kaum yang lain (sebagai penggantinya). "

Dari ayat itu tampak bahwa "kiamat" versi al Qur'an tersebut masih akan ada kaum yang diselamatkan. Bukankah dalam film itu juga ada manusia yang diselamatkan mirip kisah Bahtera Nuh (Noah Ark). Kok bisa pas ya ?! Cuma masalahnya, saya tak begitu percaya kalau yang diselamatkan adalah golongan manusia seperti itu.

Menurut para pakar dari LAPAN (Lembaga Penelitian Antariksa Nasional), bencana -walaupun hanya sebatas kiamat teknologi komunikasi akibat badai matahari (solar flare), akan terjadi pada kisaran 2011-2012. Rupanya angka 11 dan 12 ini agaknya angka-angka gawat.Yang cukup menarik adalah betapa negara-negara maju itu-walau cuma fiksi, kelihatannya telah siap dengan akan munculnya bencana yang selalu unpredictable.

Nah, kalau kita malah sibuk mencari dalil tentang nonton film itu halal apa haram ya? Menonton film itu dianggap akan dapat merusak rukun iman yang ke lima. Padahal kita tahu, dengan film itu barangkali kita akan menjadi masyarakat yang sadar bencana. Bukankah justru negri kita itulah negri seribu bencana karena terletak dalam ring of fire.

Dan sudah terbukti bahwa setiap bencana datang ke negri kita maka pemerintah kalangkabut. Mungkin republik ini adalah negri tanpa persiapan. Persiapan untuk menghadapi bencana maupun yang lainnya. Kalau memang begitu, sadarkah kita bahwa negri kita itu negri asal-asalan? Sebuah negri yang "Tanpa pedoman dan tanpa ada kitab yang menerangi". Wadoouuuhh !!!

Jumat, 20 November 2009

KIAMAT 2012

Suatu ketika Ibunya Tama, bertanya ke saya,
"Yah..bagaimana kalau kiamat jadi benar-benar datang?"
"Ya..alhamdulillah kalau jadi datang, saya itu sudah lama nunggunya..!" jawab saya.
Mendengar jawaban saya yang dianggap tidak serius itu maka Ibunya Tama bertanya lagi dengan sengit,
"Lho...Ayah ini gimana to, lha wong kiamat datang kok malah senang" ujarnya dengan sedikit marah.

Saya pun jadi teringat, mungkin Ibunya Tama berpandangan begitu karena menganggap kiamat itu hancur-hancuran. Maklum saja, tiga hari sebelum saya menulis blog ini kami sekeluarga nonton bareng film 2012 yang sedang heboh itu. Akibatnya, pandangan kita umumnya akan mengatakan kiamat itu ya... hancur lebur.

Saya punya pandangan lain. Dilihat dari arti kata kiamat itu berasal dari kata kerja qaama-yaquumu-qiyaamatan yang artinya tegak atau bangun. Sehingga agak aneh kalau pengertiannya kemudian menjadi kehancuran. Pemahaman ini hanya bisa dimengerti bila dalam perubahan suatu peradaban selalu ada yang jatuh dan bangun. Hal ini mirip silih bergantinya malam dan siang. Ketika malam hari "tegak" maka "runtuhlah" siang hari. Begitu juga sebaliknya. Bila Siang hari "hadir" maka "pergilah" malam hari.

Dilihat dari segi sejarah pada masa Rasulullah SAW, ketika itu dakwah beliau menang dan mendapat sambutan luar biasa. Maka bisa dikatakan saat itulah tegak (kiamat) nya peradaban Madinatul Munawwarah, dan bersamaan dengan itu hancurlah peradaban Jahiliyah kafir Qurays. Kondisi ini ternyata sama dengan penjelasan Allah, "Jaa al haqqa wa zahaqa albathil, inna al bathila kaana zahuuqa" (Kebenaran telah datang dan kebatilan telah pergi, sungguh kebatilan itu pasti lenyap).

Ada sahabat saya mas Sigit Ahmadi ternyata punya pandangan menarik. Menurut beliau, kiamat itu sudah terjadi berkali-kali. Sebut saja misalnya peristiwa yang menimpa kaum Nabi Nuh, Kaum 'Ad dan Tsamud dan sebagainya. Disamping ada kehancuran selalu ada saja yang diselamatkan. Apakah ini yang menurut bangsa Maya disebut zaman "pemurnian manusia".
Tetapi yang pasti peristiwa jatuh dan bangun itu adalah sunnatullah yang pasti berlaku. Itu sudah seperti pergiliran siang dan malam, Nuur (cahaya) dan Dzulumaat (kegelapan). Itulah mungkin pengertian beriman kepada Yaum al qiyamah yaitu berpandangan dan bersikap hidup dengan ajaran Allah tentang jatuh bangunnya suatu peradaban.

Dalam dialektika yang seperti itulah manusia diminta untuk memilih apakah akan memilih shirat al mustaqim (jalan lurus) ataukah shirat al maghdhub (jalan yang dimurkai Allah) maupun shirat ad dhallin (jalan yang sesat).

Selanjutnya, seorang teman saya bertanya, "Lantas bagaimana tentang angka 2012?"
Saya jawab dengan ringan, "Kalau meramal angka biasanya meleset, tetapi kalau betul saya kira tidak seperti di film-film itu". "Tetapi untuk senam otak ya lumayanlah, yang jelas banyak orang dapat meraup keuntungan akibat informasi ini".

Dan perlu juga harus kita sadari, hancur atau bahkan hilangnya bumi ini di alam semesta ini bukanlah sebuah kerugian bagi alam. Bumi ini dibanding alam semesta adalah ibarat sebutir pasir di pantai yang sangat luas. Apakah kalau hilang sebutir pasir maka akan ada kegoncangan yang signifikan di pantai itu ?

Ah...mengapa kita tak sadar-sadar juga ???
Ya Allah maafkanlah kami ya Allah.....

Senin, 02 November 2009

CICAK BUAYA DAN NYAMUK


Cicak-cicak di dinding
diam-diam merayap
datang seekor nyamuk
hap lha kok buaya


Kabareskrim Polri Susno Duaji melihat keberanian Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memata-matai kepolisian adalah bagaikan tindakan cicak melawan buaya. Hasilnya pasti cicak tak mungkin mengalahkan buaya. Alhamdulillah, Kapolri Bambang Hendarso Danuri sudah minta maaf tentang soal penggunaan istilah ini. Tetapi karena sudah terlanjur popular, agaknya permintaan maaf saja tak cukup.

Cicak melawan buaya telah melahirkan ilmu pasti. Yaitu pasti kalah. Tetapi nanti dulu. Kalau cicaknya dibantu rakyat manusia, buayanya bisa berabe. Buaya boleh saja merasa kuat dengan postur tubuhnya yang besar dan sangar. Tetapi di negara hukum, apalagi bila rakyatnya kritis, logika kekuatan saja tak cukup membuat cicak takut. Maka hati-hatilah kamu wahai buaya.

Cicak walaupun kelihatan lemah ternyata punya kemampuan mengibuli musuh-musuhnya. Dalam keadaan terpaksa binatang yang pandai merayap di dinding itu sering memotong ekornya sendiri demi keselamatan dirinya. Perbuatan ini di biologi di sebut mimikri (?). Lain lagi dengan buaya. Di dunia sastra, binatang ini juga dikenal pandai menipu. Maka muncullah istilah "air mata buaya", yaitu sejenis air mata, tetapi bukan ungkapan kesedihan melainkan hanya kepura-puraan.

Dalam dongeng kancil, buaya dikisahkan pandai menipu dengan cara diam menyaru bagaikan batang kayu hanyut. Reputasi buaya yang lebih besar dan tak mungkin kalah dalam hal tipu menipu muncul juga dalam istilah lawakan: “Buaya lu kadalin, ya..mana bisa…!!?”

Cicak makan nyamuk begitulah adanya. Itulah takdir yang sudah diberikan kepada binatang melata ini. Sehingga saya sering mengatakan kepada Tama anak saya, “Cicak begitu juga kodok adalah obat nyamuk alami yang bisa kesana kemari membantu kita memberantas nyamuk”. Berbicara tentang nyamuk ada hal yang menarik. Bila ditelisik dengan Ilmu Balaghah (Sastra al Qur’an) maka wajhu syabhin-nya sebagaai berikut :
1.Penghisap darah
2.Penyebar penyakit
3.Pengganggu
4.Lahir dari comberan (walaupun ada juga di air yang jernih)

Ciri-ciri ini hampir menyerupai ciri-ciri koruptor
1.Penghisap uang rakyat
2.Penyebar penyakit masalah-masalah sosial
3.Pengganggu ketertiban bermasyarakat

Saya jadi teringat gambaran nyamuk dalam al Qur’an surat al Baqarah :26.
“Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?." Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik”.

Maka lagu cicak agar sesuai dengan “habitat” aslinya

Cicak-cicak di dinding
diam-diam merayap
datang seekor nyamuk
hap lalu ditangkap.


Tetapi tiba-tiba Ibunya Tama yang sering mengikuti berita cicak versus buaya itu bertanya ke saya, “Bagaimana kalau nyamuknya itu ternyata buaya yang sedang over acting ?”
Maka saya pun menjawab dengan enteng, “Ya…hap lalu justru cicak ditangkap..!!!”