Rabu, 25 Maret 2009

G O M B A L

Sudah cuma gombal, amoh lagi
Masih adakah gunanya
Ye…
Walaupun cuma gombal
Dan robek-robek
Tetap masih berguna
Asal saja
Tidak kotor

Dia rela berkotor-kotor
Asal yang disenggolnya
Jadi bersih
Akh…luar biasa jasamu


Amoh = robek
Maret 2004

WAKIL RAKYAT


Ketika angin tidak lagi membawa semilir
Lantas apa yang dibawa ?
Apakah tinggal bau busuk ?

Ketika matahari tidak lagi membawa hangat
Lantas apa yang dibawa ?
Apakah tinggal gerah ?

Ketika musik tidak lagi membawa hibur
Lantas apa yang dibawa ?
Apakah tinggal bunyi duuuut?

Ketika wakil Rakyat tidak lagi membawa aspirasi.
Lantas apa yang dibawa?
Apakah tinggal janji-janji kosong?
Yogyakarta, 29 Nov. 1992

Rabu, 18 Maret 2009

TIAP HARI


Tiap hari harus melaksanakan kewajiban pada Allah
walaupun harus memaksakan diri

Tiap hari harus berdo’a keselamatan dan kesejahteraan
walaupun bersifat umum

Tiap hari harus tadarus al Qur’an
walaupun cuma satu ruku’

Tiap hari harus melakukan berdzikir
walaupun kadang-kadaang masih lupa

Tiap hari harus merawat diri
walaupun cuma minimalis

Tiap hari harus merawat rumah
walaupun yang pokok-pokok saja

Tiap hari harus menulis
walaupun cuma satu lembar

Tiap hari harus olah raga walaupun ringan

Tiap hari harus istighfar
Walau merasa tak berbuat dosa besar

Tiap hari harus membaca buku
Meskipun buku itu pernah dibaca

Tiap hari harus selalu bersyukur
Walaupun kadang ada keinginan yang belum tercapai


Bapake Tama Januari 2004

YANG PENTING ISI ATAU ORANGNYA


Lima tahun yang lalu saya mengisi pengajian di sebuah kampung. Saat itu menjelang pemilu seperti sekarang ini. Tiba saat tanya jawab ada pendengar yang bertanya tentang kriteria memilih calon pemimpin bangsa. Dengan spontan saya jawab agar memilih pemimpin gunakan saja bagaimana Allah memilih para nabi dan rasulnya. Kriteria itu kelak disebut sifat wajib bagi nabi dan rasul, yaitu shidiq, amanah, tabligh dan fatonah. Mengapa kriteria itu bisa dipakai? Alasan saya karena Allah memakai kriteria itu untuk memilih yang terbaik. Oleh karena itu nabi Muhammad dijuluki al Musthafa (yang terpilih).

Selanjutnya, ketika saya mengenal blog di internet, masalah ini saya tulis di blog ini (bapaketama.blogspot.com) dengan judul "SIFAT WAJIB BAGI CALON WAKIL RAKYAT". Selengkapnya tulisan yang saya tulis pada hari Kamis 1 Januari 2008 itu saya sisipkan disini kembali agar pembaca lebih mudah membacanya :

Dalam mata pelajaran agama Islam di SD maupun SMP terdapat adanya sifat wajib bagi nabi/ rasul. Sifat wajib itu adalah sifat yang senantiasa ada dan terus melekat pada diri pribadi setiap nabi maupun rasul. Sifat tersebut merupakan keniscayaan yang menjadi prasyarat utama bagi kemunculan seorang nabi/ rasul.

Rasanya mustahil bila seorang nabi/ rasul tidak memiliki sifat itu.
Adapun sifat itu antara lain :
1. Sidiq (Jujur ilmiah)
2. Amanah (Dapat dipercaya/ mempunyai integritas dan kredibilitas)
3. Tabligh (Komunikatif)
4. Fathonah (Cerdas/ cendikiawan)
5. Syaja'ah (Berani)6. Adil

Pada saat sekarang ini, ketika kita dihadapkan pilihan pada Pemilu untuk calon DPR dan DPRD maka kiranya patokan sifat ini rasanya relevan, bila kita pakai untuk memilih calon wakil rakyat tersebut. Nha...kalau mereka tak memiliki sifat tersebut....ya nggak usah milih... He...he...hee..!!!

Seperti itulah tulisan saya tentang wakil rakyat di blog ini. Pembaca bisa mencarinya pada halaman sebelumnya.

Mengapa ini saya angkat kembali di blog ini? Karena pagi tadi (Rabu, 18 maret 2009) sehabis mengantarkan anak saya Tama, saya membaca head line di harian Republika mengangkat topik tersebut yang keluar dari mulut Wapres Jusuf Kalla (JK). Untuk lebih lengkapnya saya kutipkan berita tersebut sebagai berikut :

'Pilih Pemimpin Seperti Nabi'
Sehari setelah partai politik peserta pemilu mendeklarasikan kampanye damai, tokoh-tokoh partai mulai berkampanye di sejumlah daerah. Beragam isu yang mereka angkat dalam kampanye dan beragam bentuk kampanye yang mereka lakoni.Ketua Umum Partai Golkar, Jusuf Kalla (JK), misalnya, berkampanye di Sumatra Utara. Tapi, dia belum melakukan kampanye rapat umum. Dia memilih menyambangi Pesantren Baabussalam di Langkat, temu kader di Medan, serta menghadiri Maulid Nabi di Binjai.Pada peringatan Maulid, JK berpesan kepada masyarakat agar berhati-hati memilih pemimpin. Dia menyarankan masyarakat memilih pemimpin yang memenuhi empat kriteria umum kepemimpinan Nabi Muhammad SAW, yaitu amanah, fathanah, tabligh, dan shiddiq. Kriteria itu, kata JK, diperlukan karena para pemimpin yang dipilih haruslah dapat dipercaya, dapat mengemban tugasnya dengan baik sesuai aspirasi rakyat, dan tentu saja cerdas. ''Pilih pemimpin seperti itu, agar rakyat sejahtera dan maju,'' kata JK.


Tulisan saya dan ceramah JK, secara tinjauan substansi sama. Tetapi kata istri saya ada dua hal yang membedakan .
1. Nasib saya (Bapake Tama) berbeda jauh dengan JK
2. Tulisan saya tak ada satu koran pun yang membuat head line besar-besar, walaupun muncul lebih dulu. (Harap maklum, lha wong bukan siapa-siapa).

Mendengar ucapan itu, saya pun tersenyum dan teringat ucapan sahabat Ali bin Abu Thalib r.a. "Perhatikanlah apa yang menjadi isi (materi) pembicaraan. Dan jangan memperhatikan siapa yang menyampaikannya".

Namun seiring usia bertambah, saya meyakini kalau ucapan itu hanya cocok untuk mencari kebenaran dalam arti luas. Untuk masalah politik seperti akhir-akhir ini, saya justru ingin membalik logika ucapan sang Khalifah ke IV itu dengan :
"Nggak penting tentang apa isi omongan (pembicaraan), justru yang penting orangnya".

Dan "rumusan" ini pun ternyata ada benarnya. Karena menurut al Qur'an, "Innaha kalimatun huwa qailuha (sesungguhnya kata itu sangat bergantung pada pembicaranya)".

Semoga bermanfaat.

Minggu, 15 Maret 2009

OMONG KOSONG


Mungkin hampir setiap hati bangsaku
Sudah membatu
Setiap mulut yang bisa bicara
Hanya saling bicara
Setiap mata yang mampu melihat
Telah menjadi buta
Itulah laknat untuk negriku
Yang pongah
Tak membutuhkan "sinar terang"

Apalagi yang harus diratapi
Apalagi yang harus ditangisi
Itulah pilihan bangsaku
Akh…sungguh malang
Mengapa negri surga ini
Harus menjadi api
Akh…mengapa
Kapal besar ini
Memilih meneggelamkan diri

Setiap hari
Seperti membikin istana pasir
Di tepi pantai yang gemuruh
Bangsaku membangun negri
Hingga suatu hari
Ombak besar itu datang
Memusnahkan sebuah mimpi
Gemah ripah loh jinawi

Aku baru sadar
Setelah istana pasir itu rata kembali
Ternyata…
Janji-janji mereka itu omong kosong

vvv

Disusun dengan kegelisahan oleh Bapake Tama satu tahun sebelum gelombang tsunami meluluhlantakkan Aceh

Minggu, 01 Maret 2009

KELAK KAMI PANGGIL ZABANIYAH

Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian)
niscaya Kami tarik ubun-ubunnya,
(yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka.
maka biarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya),
kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniyah
(Terjemahan dari Al Qur'an Digital surat Al 'Alaq 15-18)

Zabaniyah adalah sebuah istilah yang dapat kita temukan dalam surat al-'Alaq. Beberapa penjelasan dari terjemahan dan tafsir yang ada tak pernah memuaskan dahaga keingintahuan saya. Malah, kadang-kadang penjelasan dalam beberapa terjemahan itu justru membingungkan. Akibatnya, dengan terpaksa, saya harus mempercayainya walaupun tanpa sebuah informasi yang memadai.

Zabaniyah dikatakan sebutan untuk malaikat tertentu yang tugasnya sangat berbeda dengan sepuluh malaikat lain yang lebih populer. Ketika gerakan dakwah Rasulullah SAW diganggu, apalagi dihambat dan dilecehkan, maka kelak Zabaniyah akan didatangkan. Dari ayat itu tampak bahwa Zabaniyah bukan untuk membawa rahmat melainkan justru bencana. Bahkan sangat mengerikan.

Dalam ayat tentang kehadiran malaikat penghancur itu seolah Allah mau menjelaskan, "Hukum sebab akibat itu tidak hanya terjadi di alam fisika saja". Hutan gundul akan mengakibatkan banjir, sudah menjadi hukum alam yang mesti berlaku, kalau kita semena-mena terhadap hutan. Dan kaidah ini sangat diketahui oleh mereka yang belajar ilmu pengetahuan alam (IPA). Oleh karena memang hukum tersebut sangat mudah dilihat dan dibuktikan.

Namun dalam masalah dakwah, hukum sebab akibat seperti dalam ilmu fisika itu nyaris tak pernah disadari apalagi diketahui. Dari sebab itu, melalui ayat ini manusia seolah diberi tahu sebuah kaidah : "Barang siapa mengganggu gerak lajunya dakwah yang disampaikan Rasulullah SAW, walaupun mereka mendatangkan para penolongnya - kelak akan dihancurkan oleh kekuatan yang disebut Zabaniyah."

Prinsip efek timbal balik ini mirip sebuah kaidah yang berlaku dalam kehidupan kita :

Barang siapa menabur angin akan menuai badai.
Barang siapa menggali lobang maka dia akan terperosok ke dalamnya .
Barang siapa menanam tentulah mengetam.
Sopo gawe nganggo (siapa berbuat pastilah menuai akibatnya).
Barang siapa menepuk air di dulang terpercik muka sendiri.

Dari surat al 'Alaq itu kita tahu, Zabaniyah akan selalu hadir untuk menghancurkan musuh-musuh yang menentang lajunya gerak dakwah ajaran Allah. Jadi sebenarnya, Zabaniyah itu selalu datang dan datang. Hanya saja mungkin kita tak pernah sadar dan tak tahu bahwa dia telah datang dengan mengujud melalui berbagai bencana. Hal ini mirip seperti tak pernah sadarnya kita dengan kehadiran malaikat maut Izrail. Paling-paling yang bisa kita ketahui hanyalah fenomena kematian, misalnya berhentinya detak jantung maupun berhentinya nafas. Dan seperti biasanya, malaikat maut itupun lenggang kangkung datang dan pergi begitu saja. Begitulah cara kerja malaikat.

Pertanyaannya, "Apakah gerakan dakwah yang dilakukan kita (umat Islam) sudah dibantu Zabaniyah ?". Jawabannya mungkin dengan pertanyaan juga, "Apakah sebagai umat Islam kita sudah dilecehkan sehingga perlu dibantu Zabaniyah?". Kalau itu masih sulit juga kita menjawab, ada pertanyaan satu lagi, "Sudahkah kita menjadi umat Islam dengan kualifikasi seperti gambaran al Qur'an, sehingga pantas dibantu dengan dikirim oleh Allah Zabaniyah?".

Sabtu, 28 Februari 2009

GURUH DAN KILAT


Guruh, memiliki suara sangat menggelegar. Gelegarnya mampu menggetarkan kaca-kaca jendela. Kadang, karena sangat kerasnya suara itu, mampu membuat kecut hati kita.

Kilat yang datang sebelum guruh, sangatlah terang dan menyilaukan mata. Kalau kebetulan kita menatapnya, untuk sesaat mata kita seolah buta. Kilat, seperti namanya, sangatlah cepat. Hanya sekejap mata, perjalanannya sangat jauh.

Dalam atmosphere, guruh dan kilat bermanfaat pada proses terjadinya ozon. Ozon, seperti perkiraan para ilmuwan, sangat bermanfaat untuk mengurangi radiasi sinar matahari yang berbahaya bagi kehidupan. Lapisan ozon di atmosphere, menjadi semacam payung raksasa yang melindungi kita. Allahu akbar.

Dalam mitologi Yunani, guruh dan kilat adalah senjata utama dewa Zeus. Apabila Dewa yang menjadi bapaknya Hercules itu marah, dia akan menghajar dengan lidah api dari angkasa itu. Namun, lain lagi dalam legenda masyarakat Jawa, guruh dan kilat justru pernah dikalahkan dan ditangkap oleh orang sakti Ki Ageng Selo.

Menurut kepercayaan tersebut, ujud guruh dan kilat setelah tertangkap berupa buaya yang mirip naga. Namun, setelah merasa takluk dan mau tunduk pada Ki Ageng sela, makhluk listrik itupun di lepas. Oleh karena itu, apabila kehujanan dan tiba-tiba mendengar guruh dan kilat, orang yang masih percaya mitos itu akan berteriak, "Gandriiiikk.., aku putune (cucunya) Ki Ageng Selo !!!" Konon, dengan teriakan itu, kilat tidak jadi menyambar karena takut.

Di dunia kartun, lahir hero yang memiliki kemampuan lari sangat cepat bagaikan kilat, serta ditangannya keluar petir yang dahsyat. Pahlawan super itu bernama Flash untuk Ameika Serikat, dan Gundala Putera Petir untuk Indonesia.

Di dunia sains, "penakluk" kilat (petir) adalah Benyamin Franklin. Melalui serangkaian uji cobanya dengan bermain layang-layang di waktu hujan, peneliti ini tahu tentang sifat-sifat listrik alam itu. Alhasil, berkat hasil uji cobanya, diketemukanlah penangkal petir. Hampir seluruh gedung-gedung tinggi di jaman sekarang, selalu ada produk temuannya itu.

Guruh dan kilat adalah makhluk ciptaan Allah, yang dilukiskan dalam al Qur'an, senantiasa bertasbih kepada-Nya. Ra'd dan barq untuk sebutan guruh dan kilat, merupakan salah satu "pena" Allah yang dipakai sebagai media pembelajaran manusia. Kalau hidup itu ibarat bertani, guruh dan kilat adalah "tanda" sebentar lagi hari akan hujan. Maka, bagi yang "sudah bercocok tanam", kemudian mendengar guruh dan melihat kilat, akan disikapinya sebagai kabar gembira (basyiran). Air sebentar lagi akan turun dari langit menyiram bumi. Dan hampir bisa dipastikan akan terjadi tahap berikutnya, "menghidupkan bumi setelah matinya (yuhyi al ardha ba'da mautiha)".

Namun bagi yang bukan petani, guruh dan kilat, sering disikapi sebagai sesuatu yang "mengancam". Kalau kita sedang bepergian kemudian guruh dan kilat itu diteruskan hujan, biasanya kita mengatakan "cuaca sedang tidak bersahabat'. Bahkan, kalau kita naik pesawat terbang, maka kita mengatakan "cuaca buruk". Guruh, kilat, dan juga hujan dimaknai sebagai "warning (nadziran)" :bahwa sebentar lagi akan ada cuaca yang berbeda.

Guruh memiliki yang suara paling lantang, sementara kilat memiliki sinar sangat menyilaukan di alam. Hanya orang-orang tuli atau menulikan diri sajalah yang tak mendengar suara gelegar guruh. Begitu juga hanya orang-orang buta dan membutakan diri sajalah yang tak melihat kilauan cahaya kilat. Hampir seperti itulah "pesan" al Qur'an bagaikan ra'd (guruh) dan barq (kilat). Dia adalah kabar gembira (basyiran) dan sekaligus pemberi peringatan (nadziran). Tinggal kita saja apakah mau menyikapinya dalam hidup ini seperti petanikah ataukah yang lain?.

Yang pasti Rasulullah SAW berkata, "Dunia itu ladang buat akhirat". Maka, pilihannya tentu sudah jelas, kalau ingin panen jadilah "petani". Bukankah dunia ini "ladang ?".