Jumat, 01 Juni 2012

PACUL

PACUL atau cangkul merupakan alat utama sekaligus simbol perjuangan para petani di desa. Jaman dahulu sebelum mekanisasi pertanian marak seperti sekarang ini, alat pengolah tanah ini benar-benar menjadi primadona dan selalu ada di setiap rumah di setiap kaum yang oleh Bung Karno dijuluki kaum Marhaen ini. Petani bersama paculnya adalah dua hal yang tak terpisahkan. Di mana ada petani di situ ada pacul, begitu pula sebaliknya. Pacul bagi kaum tani merupakan kunci pembuka pintu rejeki.
            Pacul dalam bentuk yang masih tradisional memiliki empat komponen utama penyusunnya yaitu kayu pegangan panjang (doran), pengikat doran  dengan logam  pacul (bawak), pengganjal  agar logam pacul tak lepas dari doran (tanding) dan terakhir adalah logam tajam bagian ujung pacul (landepan). Agar pacul berfungsi dengan baik, keempat komponen tersebut harus menyatu. Bila salah satu saja komponen itu terlepas maka pacul akan kehilangan fungsinya. Oleh karena sifatnya yang demikian maka pacul merupakan akronim dari  “papat sing ora kena ucul (empat hal yang tidak boleh lepas)”.
            Konon dahulu, penamaan alat pengolah tanah itu sebagai pacul diberikan oleh para wali di tanah jawa. Dan seperti biasanya, para wali memberi nama sesuatu hal,  pastilah selalu dikaitkan dengan sebuah prinsip-prinsip hidup dalam agama Islam. Cara itu terbukti sangat efektif dan mudah diingat oleh  kaum tani.
            Adapun filosofi pacul  yang pertama adalah “aja doran” artinya seorang manusia itu hendaknya jangan sampai  tidak percaya (maido) dengan ajaran Allah (Pangeran) sebagai sang pencipta kehidupan. Inilah aspek yang paling dasar dari beriman. Beriman bukanlah sekedar mempercayai belaka tetapi juga sekaligus membenarkan serta yakin bahwa ajaran Allah adalah kebenaran yang sesungguhnya (bener kang sejati).
            Prinsip yang kedua, dalam hidup ini modal keyakinan dalam hati saja belum cukup, melainkan harus dilengkapi dengan karya nyata yang merupakan gerak dari seluruh anggota badan. Itulah yang disebut “bawak” yaitu obahing awak: suatu aktivitas yang merupakan jelmaan dari amal saleh orang-orang beriman.
            Prinsip yang ketiga, hendaknya dalam hidup ini jangan sekali-kali menyekutukan Allah dengan apapun. Artinya sebagai makhluk ciptaan Allah, manusia jangan  sekali-kali menandingkan Allah dengan apapun juga. “La ilaha illallah”, itulah tali pengikat yang membedakan seorang mukmin dengan seorang yang kafir. Dalam pacul ada “tanding” yang merupakan penguat ikatan  antara doran dan logam pacul agar tidak longgar sehingga mudah lepas. Prinsip ini mengandung pesan: “Jangan sekali-kali membuat tandingan-tandingan kepada Allah, karena sesungguhnya syirik adalah sebuah dosa yang sangat besar. (Inna syirka ladzulmun ‘adzim).”
            Prinsip yang keempat, manusia dicipta oleh Allah dilengkapi dengan akal dan hati. Akal dan hati yang tajam (landep), merupakan modal dasar dalam memahami dan menghayati ayat-ayat Allah yang tertulis dalam Alquran maupun yang tergelar dalam alam semesta.
Nah, marilah kita pegang erat-erat pacul kita dan jangan sampai lepas (ucul). Kita ayunkan pacul kita untuk mengolah ladang kehidupan ini. Bukankah Rasullah SAW bersabda, “Dunia ibarat ladang untuk akhirat”.

GALAU

            GALAU menjadi trending topik yang cukup populer akhir-akhir ini. Anggara Jalu, keponakan saya yang duduk di kelas II SMU, selalu mengatakan galau kalau kehabisan pulsa atau batere HP-nya low-bat. Pratama, anak saya yang duduk di SD kelas VI akan teriak galau, kalau tiba-tiba listrik mati. Maklum, baru sibuk mempersiapkan ujian nasional. Sementara itu, istri saya juga akan ikut-ikutan bilang galau kalau internet di rumah lemot dan sering putus nyambung. Ya, galau menjadi semacam ungkapan perasaan kejiwaan yang campur aduk antara kecewa, marah, menyesal, geram, cemas, ragu maupun situasi psikologis lainnya yang tak terkatakan.
            Kalau kita amati kehidupan kita akhir-akhir ini, masyarakat maupun para pemimpin kita kelihatannya memang sedang galau. Betapa tidak. Setelah heboh koruptor ditangkap KPK dan demonstrasi besar-besaran menolak kenaikan BBM, situasi galau makin menjadi-jadi.  Kita menyaksikan para pelajar dan mahasiswa makin gemar tawuran. Geng-geng motor di beberapa tempat mengamuk. Sementara itu Brimob di Gorontalo baku tembak dengan beberapa oknum anggota Kostrad. Negri kita yang semula dikenal orang-orangnya ramah dan santun, tiba-tiba bersumbu pendek sehingga mudah meledak marah.
            Kita baru saja memperingati hari Kartini, hari Pendidikan Nasional dan segera memasuki hari Kebangkitan Nasional. Namun hasilnya ternyata hikmah peringatan hari-hari besar nasional tersebut seolah tak membekas dan hanya berhenti pada upacara seremonial belaka. Peringatan itu dilakukan hanyalah sebagai ritual rutin oleh para pegawai negri dan anak-anak sekolah. Hasilnya tentu saja kering dan hampa.
            Walaupun demikian, hidup tetap harus terus berjalan. Bagi orang yang beriman kepada Allah SWT, tak boleh ada kata putus asa. Andaikan jalan hidup kita ini sudah on the track (shiratal mustaqim), pastilah Allah akan mengeluarkan kita  dari kegelapan menuju cahaya (minna dzulumati ila nuuri) (QS. al-Baqarah : 257). Namun, jikalau  kenyataannya kehidupan kita itu justru sebaliknya, yakni dari cahaya menuju kegelapan (minna nuri ila dzulumat), kita jadi khawatir, jangan-jangan selama ini kita berada  pada jalan yang dimurkai (maghdhub) dan sesat (dhallin). Oleh karena itu,  segeralah kita bertaubat dan mulai perbaikilah diri sendiri terus menerus.  
            Dalam keadaan yang serba galau ini marilah kita renungkan lima obat hati (Tombo Ati) warisan para Kiai dulu. “Obat hati itu ada lima perkara. Yang pertama, baca  Qur’an dan  maknanya.  Yang  kedua, sholat  malam  dirikanlah. Yang ketiga,  berkumpullah dengan  orang sholeh. Yang keempat,  perbanyaklah  berpuasa. Yang  kelima,  dzikir  malam  perpanjanglah.  Salah satunya   siapa  bisa  menjalani. Moga-moga Gusti Allah mencukupi !” ( Bapake Tama di Serambi Jumat Koran Merapi, 4 Mei 2012).

Selasa, 24 Januari 2012

SYIIRAN

PARA kiai jaman dulu, biasanya membuat syair ketika meringkaskan sebuah wejangan kepada santri-santrinya. Wejangan yang sarat nasehat luhur itu dirangkai dengan indah dan ditembangkan dalam sebuah lagu tertentu. Nasehat yang dikemas dalam sebuah lagu akan lebih mudah diingat dan sangat merasuk di dalam hati. Banyak sekali lagu (syiiran) yang konon syairnya dibuat oleh Wali Sanga. Kita masih ingat lagu Tamba Ati dan Ilir-ilir. Tembang-tembang tersebut tak lekang oleh kemajuan jaman.
KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dikenal sangat menggemari syiiran. Dalam sebuah syiiran gubahannya yang berjudul Syiir Tanpa Waton, cucu pendiri NU mbah KH Hasyim Asy’ari itu dengan leluasa mengkritik banyak kecenderungan orang-orang yang over acting dalam beragama. //Akeh kang apal Qur’an Haditse // seneng ngafirke marang liyane// kafire dewe dak digatekke// yen isih kotor ati akale 2x// (banyak yang hapal Quran dan Hadits// senang menuduh kafir terhadap orang lain// padahal kekafiran dirinya sendiri tidak diperhatikan// karena masih kotor hati akalnya).
Salah satu guru anak saya, mengajarkan pelajaran IPA di sekolah dasar melalui lagu anak-anak yang telah diubah syairnya. Syair lagu Kebunku menjadi : //lihat gigiku, ada tiga macam// gigi seriku, taring dan geraham// gigi seriku, memotong makanan// gigi taringku, merobek makanan// gigi gerahamku, mengunyah makanan// itulah gigiku, yang sangat menawan//. Ternyata, hasilnya luar biasa. Anak saya, apabila ingin mengulang pelajaran, cukup hanya mendendangkan lagu-lagu tersebut dan langsung hapal luar kepala.
Ulama-ulama klasik mengajarkan pelajaran-pelajaran yang sulit menggunakan lagu. Di kalangan para santri dikenal sebagai nadzom. Untuk menghafal kaidah-kaidah yang rumit dan banyak sekali disusun kitab dengan susunan seperti syair. Kita mengenal kitab kaidah bahasa arab yang berisi 1000 bait yang bernama Alfiyyah. Dengan kitab tersebut yang sengaja disusun dalam sebuah lagu maka kapanpun dan dimanapun santri dapat menghafalkan dengan gembira.
Lagu, tetembangan, syiiran, nadzoman dan sejenisnya, memiliki kekuatan yang sangat dahsyat dalam menggugah hati dan pikiran manusia. Sayangnya, lagu-lagu jaman sekarang lebih banyak berisi hal-hal yang remeh temeh, pemujaan kekasih yang berlebihan dan kadang sangat tidak mendidik. Sudah saatnya para pencipta lagu, tetembangan maupun syiiran merenungkan apa yang dikatakan raja dangdut H Rhoma Irama: “Lagu adalah sebuah sarana yang harus bisa dipertanggungjawabkan baik itu kepada Tuhan maupun manusia”. Kegiatan apapun, tujuan utamanya hanyalah Allah. Gus Dur mengingatkan: //Kelawan Allah Kang Maha Suci// kudu rangkulan rina lan wengi// ditirakati diriyadhohi// dzikir lan suluk ja nganti lali 2x// uripe ayem rumangsa aman// dununge rasa tanda yen iman//.

Senin, 09 Januari 2012

SAATNYA BERUBAH

SETIAP pergantian tahun kita selalu gembira dan sedih sekaligus. Gembira, karena kita melihat anak-anak semakin besar dan semakin bisa bertanggung jawab. Kita juga bahagia karena masih diberi peluang menikmati hangatnya sinar matahari. Tetapi, dengan masuknya tahun 2012 ini kita juga sedih. Tambah satu tahun berarti diri kita semakin bertambah tua. Dan itu berarti kesempatan kita berbuat baik semakin berkurang. Penyakit-penyakit degeneratif akibat aging process (proses penuaan) tentu akan segera terjadi. Dan sekali lagi, berarti waktu yang tersedia untuk kita tidak terlalu banyak.

Sayang, pendakian-pendakian prestasi yang selama ini dilakukan, rasanya masih berputar-putar di situ saja. Apakah memang kita sebagai bangsa tak berbakat menjadi seorang climber (pendaki) sejati? Atau apakah nasibnya memang hanya menjadi seorang camper (orang berkemah untuk berhenti) yang stagnan lalu gulung tenda dan pulang?

Saya jadi teringat kisah “Kucing Ngurag”. Apabila seekor kucing sudah merasa tua dan merasa tak mampu lagi menangkap tikus maka kemudian pergi ke sebuah tempat untuk menyepi dan menunggu kematian. Tetapi kalau itu yang dilakukan, bukankah itu keputusasaan? Dan seperti kita tahu putus asa itu apapun alasannya tak boleh dilakukan.

Hidup itu adalah perubahan, begitu kata para filosof. Dan kalau ada yang abadi dalam hidup, maka dia dalah perubahan itu sendiri. Jadi, hidup itu ada dan hadir adalah untuk menciptakan perubahan. Pastinya perubahan kearah yang lebih baik. Tetapi kadang-kadang melakukan perubahan itu ibarat menguras lautan dengan tangan-tangan kecil. Hasilnya tak signifikan. Dan yang didapat hanyalah lelah dan penat. Tapi ingatlah, walaupun kita tak mampu mengubah arah angin, kita masih bisa mengubah arah layarnya untuk ke pantai cita.

Matahari terbit memang bukan akibat ayam berkokok. Meskipun lirih kokok ayam jago, tidak berarti matahari tidak akan terbit. Sang pusat tata surya itu punya hukum tersendiri, kapan harus terbit. Dan kelihatannya ayam jago itu tahu, bahwa tugasnya bukanlah menerbitkan matahari. Dia berkokok hanyalah memberitahu seluruh makhluk bahwa sebentar lagi hari akan segera pagi. Seperti itulah sunnatullah perubahan. Manusia berusaha dan Allah yang memastikannya.

Sebuah nasehat mengatakan: “Mengajilah dari alif dan menghitunglah dari satu, dan satu itu adalah dirimu sendiri”. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Mulailah dari dirimu sendiri (ibda’ binafsik)”. Nah, mulailah melakukan perubahan, sekecil apapun asalkan bermanfaat!

Sabtu, 06 November 2010

ASPIRASI MERAPI


Para pengamat gunung Merapi di Yogyakarta, akhir-akhir ini dipaksa harus kerja lembur. Frekuensi gempa di puncak gunung makin sering terjadi. Seismograf yang selalu rajin mencatat aktivitas merapi seolah mengabarkan:"Waspada, bisa jadi sebentar lagi gunung yang ditunggu mbah Marijan ini akan Meletus !". Itulah informasi awal yang bisa diamati oleh manusia. Walaupun, tanda-tanda itu kadang-kadang tak berlanjut menjadi letusan, namun bersikap awas itu tetap perlu.
 Bila magma tertahan, tak menemukan jalan keluar, maka "glerrr...rrr"' tinggal menunggu hari. Letusan vertical yang sudah menjadi kebiasaan 'batuk' ala gunung yang bersanding dengan Merbabu itu, biasanya diikuti dengan merebaknya 'wedhus gembel'. Desa-desa yang ada di lereng merapi hangus terbakar. Lava pijar yang sangat panas meluluhlantakkan apa saja yang ada dihadapannya. Penduduk lari pontang-panting mencari jalan keselamatan masing-masing. Dan kita hanya melihat dari jauh, betapa kuatnya makhluk Allah yang bernama Merapi ini.

Gunung Merapi meletus? Oh, bukan. Mbah Marijan sang juru kunci gunung itu mengatakan, "Janganlah mengatakan bahwa gunung Merapi sedang meletus, apalagi merusak. Tetapi katakanlah, gunung merapi ini sedang membangun".Apa yang dikatakan sang abdi dalem Sri Sultan itu ada benarnya. Lihatlah! Berapa rumah, jembatan, bendungan dan berbagai bangunan bisa berdiri gara-gara 'ulah Merapi' ? Merapi, bukan sekedar menghasilkan bencana, melainkan juga pasir kualitas tinggi. Bahkan, gunung kebanggaan 'Wong Jogja' itu, selalu meninggalkan kesuburan tanah untuk masyarakat Sleman, Boyolali dan Magelang.
Bagaimana kaitan gunung Merapi dengan ancaman unjuk rasa tanggal 20 oktober 2010?

Ketika malam ini saya tulis uraian ini, saya tidak tahu apakah aspirasi yang sudah menyesakkan dada bagi para demonstran ini akan berakhir dengan 'letusan' ataukah hanya 'mlempem adem ayem'?. Ibarat gunung Merapi menyimpan kekekuatan, seperti itulah keinginan-keinginan yang tak tersalurkan menumpuk kekuatan. Magma, bila tidak segera menemukan jalan keluar, akan menyebabkan tremor (getaran) dimana-mana. Walhasil, bukan tidak mungkin gempa vulkanik-politik akan terjadi. Bukankah politik itu menurut para pakar, selalu dikitari kepada segala hal-hal yang tak mungkin menjadi mungkin terjadi.

Kegoncangan dan membuncahnya isi bumi digambarkan dengan indah dalam al-Qur'an surat al-Zalzalah. Dengan didahului kalimat bersyarat, "Apabila bumi digoncang dengan segoncang-goncangnya, yakni (lantaran) perut bumi mengeluarkan bebannya (berupa material-material yang berat magma/ lava pijar). Dan manusia pun (akibatnya) bertanya, ada apa ini gerangan ?".

Bumi ibarat hati manusia. Didalamnya tersimpan magma berupa aspirasi-aspirasi yang terus bergejolak. Sewaktu-waktu aspirasi ini akan "menggetarkan" jagad perpolitikan kita. Bahkan, bila sampai "meledak" tak terkendali, akan membuat setiap insan di republik ini bertanya:"Apa yang sebenarnya telah terjadi?, Mengapa konstelasi perpolitikan kita jadi begini ?"

Ingat pesan mbah Marijan. Gunung Merapi bukan meletus, melainkan membangun. Akankah letusan-letusan para pendemo itu akan menyuburkan tanah politik republik ini ? Ataukah justru akan memunculkan konflik yang berkepanjangan yang sulit disembuhkan?
Inilah saatnya pembuktian, "Siapa yang emas tetaplah emas dan siapa yang loyang tetaplah loyang". Hati-hatilah, karena "magma panas" menerjang kemana-mana. Sementara itu, "gempa-gempa susulan" terus akan terjadi. Wallahu 'alam

Kamis, 28 Januari 2010

KENTUT SISTEMIK





Alkisah, sekelompok anak-anak muda sedang membincangkan masa depan mereka yang terasa semakin suram. Malam pun tambah larut. Diskusi bertambah asyik dan panas. Masing-masing berusaha mempertahankan argumentasinya. Suasana yang biasanya sepi di bumi perkemahan itu, menjadi riuh dengan celoteh anak-anak muda yang sedang hobi berdebat ini.

Tiba-tiba, tanpa disangka-sangka terdengar bunyi: ”Thuuuuiiiiuuutttttt...dut...dut...brutt...!!!” dari arah yang tidak jelas. Rupanya bunyi itu suara kentut. Persisnya kentut berirama seperti pertunjukan pada acara Gong Show beberapa waktu lalu. Gelegar tawa pun meledak memecah kesunyian malam. Diskusi pun mulai menggelinding ke arah topik lain.
”Hayo...siapa yang buang angin ini?”.
“Ngaku aja sekarang, dari pada malu nantinya !”
Beberapa orang mulai mempermasalahkan kejadian alamiah itu.

Semua terdiam. Masing-masing saling menduga dan mencoba menebak-nebak siapa gerangan yang sedang membuat skandal tak terlihat ini. Angin berhembus. Bau tak sedap mulai mulai menggerayangi dan meracuni hidung mereka.
”Akh...kurang ajar, bau apa ini?”
”Wah ini pasti gas ammoniak yang tercampur dengan semur jengkol...!”
”Bukan ini pasti adonan telur busuk selama tiga bulan..! ”

Saling tuding dan menyalahkan segera terjadi. Akhirnya, demi menjaga persatuan dan kesatuan kelompok, dibentuklah panitia khusus (pansus) yang bertugas mencari dan menemukan biang kentut yang menghebohkan itu. Untuk akurasi data, beberapa anggota yang dianggap pakar dalam bidang ”ilmu kimia gas” segera dipilih.

”Kentut ini pasti disebabkan semur jengkol dan pete. Hal ini tampak jelas dari struktur baunya. Maka siapa saja yang mulutnya bau jengkol dan pete dialah yang bertanggung jawab !” Pakar I mencoba mengurai masalah.

”Tetapi dia yang buang angin itu tak bisa disalahkan. Kegiatan itu justru dilakukan demi menjaga kesehatan agar tak berdampak sistemik hingga akan menyebabkan sakit beneran”. Pakar II menyanggah dengan gayanya yang meyakinkan.

”Sebenarnya, kentut bisa ditahan agar jangan keluar. Toh, nanti akan keluar lewat mekanisme lain yang bukan kentut. Dengan begitu, tidak akan berbau dan merusak kebahagiaan lingkungan kita”. Pakar III mencoba mencari solusi yang bisa diterima semua pihak.

Dari saran-saran para pakar itu, pro-kontra pun terjadi. Sebagian menganggap siapapun yang kentut harus mempertanggung jawabkan secara moral. Bahkan sebagian ingin kalau perlu dimakzulkan dari bumi perkemahan. Sementara yang lainnya menilai, keputusan untuk berkentut ria itu adalah tindakan cerdas dan tepat agar masalah tersebut tak berdampak sistemik.

Perdebatan mulai memanas lagi. Ucapan sumpah serapah berhamburan. Kata-kata kotor seperti bangsat dan sejenisnya digunakan. Diskusi dari para anak muda calon pemimpin bangsa ini terus mengarah ke debat kusir. Sehingga akhirnya salah seorang mengusulkan bahwa untuk mencari biang kerok pembuat kentut diputuskan dengan menyanyi.

Caranya? Sambil menyanyi, diedarkanlah sebuah batu yang harus diberikan ke samping teman lainnya secara bergilir. Siapa saja yang nanti memegang batu tersebut tepat setelah lagu berakhir, maka dialah yang ditengarai sebagai yang paling bertanggung jawab melakukan kentut itu.

Dari jauh sayup-sayup terdengar lagu mereka yang menggunakan bahasa jawa.

ndang..ndang..tut...cendela uwo..uwo...
sapa bali ngentut...di tembak raja tuwa...
neng kali ngiseni kendhi...
jeruk purut wadhah kentut....!!!

Dan ternyata yang mendapatkan batu terakhir adalah dia paling gigih mempertahankan pendapat bahwa: ”Kentut bila tak dikeluarkan akan berdampak sistemik”.

Senin, 11 Januari 2010

SILA-SILA YANG MENGHANCURKAN

Kita telah tahu, Panca Sila (PS) adalah perjanjian luhur bangsa Indonesia untuk hidup bersama menjalin kehidupan berbangsa dan bernegara. PS menurut Cak Nur (Dr. Nurcholish Majid), merupakan common platform yang menjadikan negri zamrud khtulistiwa ini tetap bersatu. Maka tak berlebihan kiranya, jika lima prinsip dasar negara ini terpahat kuat dalam bentuk lambang perisai di leher burung Garuda. Dengan perlindungan perisai PS, bangsa Indonesia mengarungi angkasa pergaulan internasional antar bangsa dengan aman dan elegan tentunya.

Namun kenyataannya, pelaksanaan sila-sila PS bak "jauh panggang dari api". Dari hari ke hari, melalui berbagai media massa kita suka atau tidak suka disuguhi kenyataan yang sangat memilukan sekaligus memalukan.

Dalam berbagai masalah seperti politik,ekonomi,sosial dan budaya 'uang' bisa menjadi segala-galanya. Pemilihan pemimpin sejak dari Presiden hingga Kepala Desa, uang sudah menjadi 'penentu' menang atau kalahnya seorang kandidat. Rekruitmen pegawai negri, POLRI, TNI walaupun kadang sembunyi-sembunyi, uang menjadi faktor pelicin yang tidak bisa diabaikan. Akibatnya, masyarakat kita cepat atau lambat sangat mendewa-dewakan uang.

Seiring dengan semakin sulitnya mencari nafkah (baca: uang), kriminalitas merajalela. Mulai dari kemunculan fenomena pembunuh bayaran, penculikan bayi hingga mutilasi dan sebagainya sudah menjadi kenyataan di republik yang konon sangat santun dan agamis ini. Manusia Indonesia hampir-hampir telah menjadi binatang buas bagi sesamanya.

Sementara itu, benih-benih perpecahan juga mulai bermunculan. Demo yang cenderung menjadi amuk masa menjadi sebuah cara yang dianggap efektif menekan pihak-pihak yang ingin di tekan. Sejak mulai dari tawur antar suporter sepak bola, tawur antar pelajar dan mahasiswa hingga di panggung-panggung politik. Umpatan, sumpah serapah, tonjokan dan saling mengancam, dianggap sebagai bagian dari dinamika demokrasi ataupun ongkos demokrasi.

Para wakil rakyat dalam bermusyawarah telah mementingkan egonya masing-masing, seolah lupa kepada misi awalnya untuk apa dia duduk sebagai anggota dewan. Wakil rakyat telah menjadi wakil bagi kepentingan dirinya sendiri, sehingga masalah-masalah besar- kalau tak di blow up media massa, tidak akan menjadi agenda pembahasan. Debat yang cenderung menjadi debat kusir bukanlah bagian dari upaya keras memecahkan persoalan-persoalan bangsa, melainkan hanya atraksi unjuk kebolehan untuk menunjukkan pada konstituen bahwa mereka telah bekerja. Begitu juga seminar-seminar di berbagai perguruan tinggi. Kegiatan itu bukanlah bagian dari kontemplasi para pejuang-pemikir, melainkan hanya sekedar intellectual exercises (senam otak) untuk menunjukkan kelas kepakaran mereka. Kegiatan itu semua mereka selenggarakan, karena dengan itulah mereka digaji, makan dan hidup.

Maka rasanya tak berlebihan kiranya kalau rumusan sila-sila yang akan membawa kehancuran bangsa ini sebagai berikut :

1. Keuangan Yang Maha Kuasa
2. Kebinatangan yang dzalim dan barbarian
3. Perpecahan Indonesia
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh egonya masing-masing dalam perdebatan/ perwakilan
5. Ketimpangan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Wallahu a'lam bi al shawab.