Kamis, 03 Desember 2009

21-12: OTHAK ATHIK GATHUK (LAGI)


Sebenarnya saya nggak begitu suka OAG (othak athik gathuk), tetapi kegiatan ini terus saja memancing rasa penasaran saya.

Adalah mas Dwiarto Setiabudi, ketika selesai "pengajian" di rumahnya dengan nonton bersama film Kiamat 2012 dilanjutkan dengan diskusi ala "saur manuk" seperti biasanya, tiba-tiba beliau nyeletuk:
"Kata bangsa Maya, kiamat itu kan 21 Desember 2012. Nah, sekarang mbok ya coba dibuka al Qur'an surat 21 dan ayatnya 12 (bulan Desember), kira-kira cocok apa enggak ya?"
Kami pun lantas pada tertawa karena hoby OAG-nya ini kumat lagi.

Walaupun dengan rasa tak percaya tetapi weladalah, surat 21 (al Anbiya') dan ayat 12 itu mengisyaratkan terjadinya bencana:
"Maka tatkala mereka merasakan azab Kami, tiba-tiba mereka melarikan diri dari negerinya."

Ayat ini seolah mengingatkan adegan pada film tersebut tentang orang-orang yang pada berlarian mencoba melarikan diri. Bahkan tokoh utama film itu pontang-panting berusaha lari dari negrinya yang hancur lebur menuju tempat lain yang lebih aman.

Lebih dahsyat lagi pada surat al Anbiya' tersebut ayat 11-nya berkata,
"Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang zalim yang telah Kami binasakan, dan Kami adakan sesudah mereka itu kaum yang lain (sebagai penggantinya). "

Dari ayat itu tampak bahwa "kiamat" versi al Qur'an tersebut masih akan ada kaum yang diselamatkan. Bukankah dalam film itu juga ada manusia yang diselamatkan mirip kisah Bahtera Nuh (Noah Ark). Kok bisa pas ya ?! Cuma masalahnya, saya tak begitu percaya kalau yang diselamatkan adalah golongan manusia seperti itu.

Menurut para pakar dari LAPAN (Lembaga Penelitian Antariksa Nasional), bencana -walaupun hanya sebatas kiamat teknologi komunikasi akibat badai matahari (solar flare), akan terjadi pada kisaran 2011-2012. Rupanya angka 11 dan 12 ini agaknya angka-angka gawat.Yang cukup menarik adalah betapa negara-negara maju itu-walau cuma fiksi, kelihatannya telah siap dengan akan munculnya bencana yang selalu unpredictable.

Nah, kalau kita malah sibuk mencari dalil tentang nonton film itu halal apa haram ya? Menonton film itu dianggap akan dapat merusak rukun iman yang ke lima. Padahal kita tahu, dengan film itu barangkali kita akan menjadi masyarakat yang sadar bencana. Bukankah justru negri kita itulah negri seribu bencana karena terletak dalam ring of fire.

Dan sudah terbukti bahwa setiap bencana datang ke negri kita maka pemerintah kalangkabut. Mungkin republik ini adalah negri tanpa persiapan. Persiapan untuk menghadapi bencana maupun yang lainnya. Kalau memang begitu, sadarkah kita bahwa negri kita itu negri asal-asalan? Sebuah negri yang "Tanpa pedoman dan tanpa ada kitab yang menerangi". Wadoouuuhh !!!

1 komentar:

Abi Rara mengatakan...

Sangat menarik!