Kamis, 28 Januari 2010

KENTUT SISTEMIK

Alkisah, sekelompok anak-anak muda sedang membincangkan masa depan mereka yang terasa semakin suram. Malam pun tambah larut. Diskusi bertambah asyik dan panas. Masing-masing berusaha mempertahankan argumentasinya. Suasana yang biasanya sepi di bumi perkemahan itu, menjadi riuh dengan celoteh anak-anak muda yang sedang hobi berdebat ini.

Tiba-tiba, tanpa disangka-sangka terdengar bunyi: ”Thuuuuiiiiuuutttttt...dut...dut...brutt...!!!” dari arah yang tidak jelas. Rupanya bunyi itu suara kentut. Persisnya kentut berirama seperti pertunjukan pada acara Gong Show beberapa waktu lalu. Gelegar tawa pun meledak memecah kesunyian malam. Diskusi pun mulai menggelinding ke arah topik lain.
”Hayo...siapa yang buang angin ini?”.
“Ngaku aja sekarang, dari pada malu nantinya !”
Beberapa orang mulai mempermasalahkan kejadian alamiah itu.

Semua terdiam. Masing-masing saling menduga dan mencoba menebak-nebak siapa gerangan yang sedang membuat skandal tak terlihat ini. Angin berhembus. Bau tak sedap mulai mulai menggerayangi dan meracuni hidung mereka.
”Akh...kurang ajar, bau apa ini?”
”Wah ini pasti gas ammoniak yang tercampur dengan semur jengkol...!”
”Bukan ini pasti adonan telur busuk selama tiga bulan..! ”

Saling tuding dan menyalahkan segera terjadi. Akhirnya, demi menjaga persatuan dan kesatuan kelompok, dibentuklah panitia khusus (pansus) yang bertugas mencari dan menemukan biang kentut yang menghebohkan itu. Untuk akurasi data, beberapa anggota yang dianggap pakar dalam bidang ”ilmu kimia gas” segera dipilih.

”Kentut ini pasti disebabkan semur jengkol dan pete. Hal ini tampak jelas dari struktur baunya. Maka siapa saja yang mulutnya bau jengkol dan pete dialah yang bertanggung jawab !” Pakar I mencoba mengurai masalah.

”Tetapi dia yang buang angin itu tak bisa disalahkan. Kegiatan itu justru dilakukan demi menjaga kesehatan agar tak berdampak sistemik hingga akan menyebabkan sakit beneran”. Pakar II menyanggah dengan gayanya yang meyakinkan.

”Sebenarnya, kentut bisa ditahan agar jangan keluar. Toh, nanti akan keluar lewat mekanisme lain yang bukan kentut. Dengan begitu, tidak akan berbau dan merusak kebahagiaan lingkungan kita”. Pakar III mencoba mencari solusi yang bisa diterima semua pihak.

Dari saran-saran para pakar itu, pro-kontra pun terjadi. Sebagian menganggap siapapun yang kentut harus mempertanggung jawabkan secara moral. Bahkan sebagian ingin kalau perlu dimakzulkan dari bumi perkemahan. Sementara yang lainnya menilai, keputusan untuk berkentut ria itu adalah tindakan cerdas dan tepat agar masalah tersebut tak berdampak sistemik.

Perdebatan mulai memanas lagi. Ucapan sumpah serapah berhamburan. Kata-kata kotor seperti bangsat dan sejenisnya digunakan. Diskusi dari para anak muda calon pemimpin bangsa ini terus mengarah ke debat kusir. Sehingga akhirnya salah seorang mengusulkan bahwa untuk mencari biang kerok pembuat kentut diputuskan dengan menyanyi.

Caranya? Sambil menyanyi, diedarkanlah sebuah batu yang harus diberikan ke samping teman lainnya secara bergilir. Siapa saja yang nanti memegang batu tersebut tepat setelah lagu berakhir, maka dialah yang ditengarai sebagai yang paling bertanggung jawab melakukan kentut itu.

Dari jauh sayup-sayup terdengar lagu mereka yang menggunakan bahasa jawa.

ndang..ndang..tut...cendela uwo..uwo...
sapa bali ngentut...di tembak raja tuwa...
neng kali ngiseni kendhi...
jeruk purut wadhah kentut....!!!

Dan ternyata yang mendapatkan batu terakhir adalah dia paling gigih mempertahankan pendapat bahwa: ”Kentut bila tak dikeluarkan akan berdampak sistemik”.

Senin, 11 Januari 2010

SILA-SILA YANG MENGHANCURKAN

Kita telah tahu, Panca Sila (PS) adalah perjanjian luhur bangsa Indonesia untuk hidup bersama menjalin kehidupan berbangsa dan bernegara. PS menurut Cak Nur (Dr. Nurcholish Majid), merupakan common platform yang menjadikan negri zamrud khtulistiwa ini tetap bersatu. Maka tak berlebihan kiranya, jika lima prinsip dasar negara ini terpahat kuat dalam bentuk lambang perisai di leher burung Garuda. Dengan perlindungan perisai PS, bangsa Indonesia mengarungi angkasa pergaulan internasional antar bangsa dengan aman dan elegan tentunya.

Namun kenyataannya, pelaksanaan sila-sila PS bak "jauh panggang dari api". Dari hari ke hari, melalui berbagai media massa kita suka atau tidak suka disuguhi kenyataan yang sangat memilukan sekaligus memalukan.

Dalam berbagai masalah seperti politik,ekonomi,sosial dan budaya 'uang' bisa menjadi segala-galanya. Pemilihan pemimpin sejak dari Presiden hingga Kepala Desa, uang sudah menjadi 'penentu' menang atau kalahnya seorang kandidat. Rekruitmen pegawai negri, POLRI, TNI walaupun kadang sembunyi-sembunyi, uang menjadi faktor pelicin yang tidak bisa diabaikan. Akibatnya, masyarakat kita cepat atau lambat sangat mendewa-dewakan uang.

Seiring dengan semakin sulitnya mencari nafkah (baca: uang), kriminalitas merajalela. Mulai dari kemunculan fenomena pembunuh bayaran, penculikan bayi hingga mutilasi dan sebagainya sudah menjadi kenyataan di republik yang konon sangat santun dan agamis ini. Manusia Indonesia hampir-hampir telah menjadi binatang buas bagi sesamanya.

Sementara itu, benih-benih perpecahan juga mulai bermunculan. Demo yang cenderung menjadi amuk masa menjadi sebuah cara yang dianggap efektif menekan pihak-pihak yang ingin di tekan. Sejak mulai dari tawur antar suporter sepak bola, tawur antar pelajar dan mahasiswa hingga di panggung-panggung politik. Umpatan, sumpah serapah, tonjokan dan saling mengancam, dianggap sebagai bagian dari dinamika demokrasi ataupun ongkos demokrasi.

Para wakil rakyat dalam bermusyawarah telah mementingkan egonya masing-masing, seolah lupa kepada misi awalnya untuk apa dia duduk sebagai anggota dewan. Wakil rakyat telah menjadi wakil bagi kepentingan dirinya sendiri, sehingga masalah-masalah besar- kalau tak di blow up media massa, tidak akan menjadi agenda pembahasan. Debat yang cenderung menjadi debat kusir bukanlah bagian dari upaya keras memecahkan persoalan-persoalan bangsa, melainkan hanya atraksi unjuk kebolehan untuk menunjukkan pada konstituen bahwa mereka telah bekerja. Begitu juga seminar-seminar di berbagai perguruan tinggi. Kegiatan itu bukanlah bagian dari kontemplasi para pejuang-pemikir, melainkan hanya sekedar intellectual exercises (senam otak) untuk menunjukkan kelas kepakaran mereka. Kegiatan itu semua mereka selenggarakan, karena dengan itulah mereka digaji, makan dan hidup.

Maka rasanya tak berlebihan kiranya kalau rumusan sila-sila yang akan membawa kehancuran bangsa ini sebagai berikut :

1. Keuangan Yang Maha Kuasa
2. Kebinatangan yang dzalim dan barbarian
3. Perpecahan Indonesia
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh egonya masing-masing dalam perdebatan/ perwakilan
5. Ketimpangan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Wallahu a'lam bi al shawab.

Jumat, 08 Januari 2010

MUSIM HUJAN



Hari-hari ini telah memasuki musim hujan. Sekurang-kurangnya ada dua sikap menghadapi keadaan cuaca seperti ini. Bagi petani yang mengharapkan air- seperti petani tanaman padi, pasti menyambut dengan suka cita. Sedangkan, petani tembakau yang mau memanen hasilnya maupun profesi lainnya yang tak mengharapkan hujan, tentu menyambut dengan gundah gulana. Yang satu, hujan disambut seolah kabar gembira, sedang lainnya sebagai kabar kesedihan karena panen akan gagal.

Begitu juga al Qur'an. Ibarat air hujan yang turun dari semesta angkasa (anzalna min as sama'), maka kitab orang Mukmin itu selalu disikapi berbeda: pro dan kontra. Bagi yang setuju, kehadiran al Qur'an adalah nasehat yang luar biasa yang diberikan oleh Sang Pencipta alam semesta. Tentu saja ini sangat diperlukan. Apalagi kalau untuk menghidupkan bumi setelah matinya ( yuhyi al ardha ba'da mautiha ). Al Qur'an, sebagaimana air hujan, mampu menumbuhsuburkan hati yang gersang sehingga menjadi lunak dan menciptakan hidup persaudaraan (allafa baina qulubikum faasbahtum bini'matihi ikhwana).

Di musim hujan ini pulalah, sering ditandai munculnya guruh dan kilat. Guruh dan kilat yang dalam al Qur'an disebut ra'dun dan barqun adalah penanda bahwa hari akan segera hujan. Guruh sangat keras suaranya, sehingga hampir-hampir semua telinga akan mendengar. Begitu juga kilat. Cahayanya begitu menyilaukan mata. Hanya orang-orang yang menulikan telinga dan memejamkan mata sajalah yang tak mampu mendengar dan melihat fenomena luar biasa itu.

Al Qur'an, kritikan-kritikannya sangat menggelegar. Begitu juga ketajaman analisanya sangat memukau. Tetapi, bila manusianya menulikan telinga dan membutakan matanya sendiri, maka gelegar dan kilauan cahayanya tak bermanfaat. Mereka yang seperti itu, oleh al Qur'an dengan pedas disebut sebagai: "mereka itu bisu, tuli, buta dan tak akan kembali kepada kebenaran (sumun, bukmun, 'umyun, fahum layarji'un)".

Walaupun al Qur'an berbicara masalah hujan, kitab 'pedoman jalan lurus' ini bukanlah buku Klimatologi. Fenomena hujan, guruh dan kilat adalah 'cara Allah' mengajarkan kepada kita bagaimana seharusnya menanggapi kehadiran al Qur'an dalam kehidupan kita. Bumi manusia yang keras membatu (kal hijarah) tak akan memperoleh manfaat.

Hujan yang terus turun pada hati manusia yang keras (mbeguguk mutho waton), tak akan meresap masuk kedalam relung jiwa. Dan ini tentu saja tak akan menimbulkan berbagai batang aliran sungai dibawahnya (min tahtihal anhar). Hujan justru tak akan membawa berkah melainkan banjir.

Begitu juga al Qur'an. Bila sikap kita salah dalam menanggapi al Qur'an, apalagi cenderung mengabaikan, maka petaka akan selalu datang seperti yang terjadi pada jaman para nabi dahulu. Al Qur'an ibarat guruh dan kilat, dia adalah kabar gembira (basyiran) sekaligus pemberi peringatan (nadziran).

Wallahu a'lam.

RENUNGAN TAHUN BARU

Setiap pergantian tahun aku selalu gembira dan sedih sekaligus. Gembira, karena aku melihat anakku semakin besar dan semakin bisa bertanggung jawab. Aku juga bahagia karena batang usiaku telah bertambah dan ternyata sampai akhir tahun 2009 ini aku masih diberi peluang menikmati hangatnya sinar matahari.

Tetapi, dengan masuknya 2010 ini aku juga sedih. Tambah satu tahun berarti diriku semakin bertambah tua. Dan itu berarti kesempatanku berbuat baik semakin berkurang. Penyakit-penyakit degeneratif akibat aging process tentu akan segera terjadi. Dan sekali lagi, berarti waktu yang tersedia untukku tidak terlalu banyak.

Sayang, pendakian-pendakian yang selama ini kulakukan, rasanya hanya berputar-putar di situ saja. Apakah memang aku tak berbakat menjadi seorang Climber sejati? Atau apakah aku "jatahnya" memang hanya menjadi seorang Camper yang stagnan lalu gulung tenda dan pulang?

Aku jadi teringat kisah "Kucing Ngurag". Apabila seekor kucing sudah merasa tua dan merasa tak mampu lagi menangkap tikus maka kemudian pergi kesebuah tempat untuk menyepi dan menunggu kematian. Tetapi kalau itu yang dilakukan, bukankah itu keputusasaan? Dan seperti aku tahu putus asa itu apapun alasannya tak boleh dilakukan.

Hidup itu adalah perubahan, begitu kata para filosof. Dan kalau ada yang abadi dalam hidup, maka dia dalah perubahan itu sendiri. Jadi, hidup itu ada dan hadir adalah untuk menciptakan perubahan. Pastinya perubahan kearah yang lebih baik. Tangan-tangan kecilku ini rasanya tak mampu menciptakan perubahan. Ya, bahkan untuk lingkungan yang kecil. Memang Nabi Muhammad menasehati, untuk berubah mulailah dari diri sendiri (ibda' binafsik). Tetapi kadang-kadang lamunan perubahan itu menggodaku bagaikan kita melakukan menguras lautan dengan tangan-tangan kecil kita. Maka hasilnya menjadi tak signifikan. Dan yang didapat hanyalah capai dan penat.

Matahari terbit memang bukan akibat ayam berkokok. Meskipun lirih kokok ayam jago, tidak berarti matahari tidak akan terbit. Sang pusat tata surya itu punya hukum tersendiri, kapan harus terbit. Dan kelihatannya ayam jago itu tahu, bahwa tugasnya bukanlah menerbitkan matahari. Dia berkokok hanyalah memberitahu seluruh makhluk bahwa sebentar lagi hari akan segera pagi.

Walaupun begitu para sahabat, aku masih terhibur dan bahagia juga dalam tahun baru ini, bukankah dalam menjalani hidup ini yang penting adalah prosesnya? Apabila prosesnya kita selalu berada dalam "Jalan kebenaran" seperti do'a-do'a kita dalam al Fatihah fa insya Allah kita akan bahagia dunia akhirat tentunya.

Jumat, 18 Desember 2009

SEMANGAT HIJRAH

Barangkali Rasulullah sedang mengajarkan teknik aikido, teknik beladiri dengan memanfaatkan tenaga lawan. Atau mungkin sedang mengajarkan adversity quotient, suatu model kecerdasan yang dipakai tatkala menghadapi kesulitan. Tetapi yang pasti, kanjeng nabi Muhamammad itu sedang mempraktekkan isi prinsip "inna ma'al 'u'sri yusra, fa inna ma'al 'usri yusra".

Secara pandangan orang kafir Qurays,nabi keturunan dari silsilah Ismail ini seolah terusir dari negrinya. Padahal, hijrah adalah langkah yang sejak awal sudah direncanakan. Konsep trilogi: iman (pandangan dan sikap hidup), hijrah dan jihad adalah sesuatu yang built in dalam dakwah. Saat hijrah hanyalah masalah pemilihan momentum yang tepat. Sebab Mekah sudah diketahui bukanlah lahan subur untuk tumbuh kembangnya dakwah. Ibarat menyemai benih padi di bedengan, maka ketika dianggap cukup, tanaman padi-padi yang mulai berdaun itu harus dipindahkan (hijrah) ke tempat yang lebih luas dan diatur jaraknya agar "keadilan" terdistribusi dengan baik.

Peristiwa hijrah bukanlah adegan kekalahan dakwah di Mekah, melainkan justru dengan "metode pembiaran" dengan cara hijrah (ditinggalkan) itulah konstruksi masyarakat jahiliyah Mekah akan ambruk dengan sendirinya. Dengan hijrah "kebaikan-kebaikan" yang ada dimasyarakat itu turut pergi. Karena mereka yang turut hijrah adalah mereka-mereka yang terbaik di masyarakat itu. Akibatnya, masyarakat itu menjadi tanpa harapan akan ada perbaikan. Hal ini persis seperti ratapan ibu nabi Isa bernama Maryam yang menyatakan "Kehidupan sudah bagaikan pohon kurma yang sudah tak berpucuk lagi".

Itulah Nabi kita Muhammad al Musthafa, yang mampu merubah "tantangan" menjadi "peluang". Mengganti "semangat pengusiran" menjadi " semangat kelahiran babak baru", sehingga telah lahir sebuah kota yang becahaya gilang gemilang (Madinatul Munawwarah).Peristiwa ini analog dengan proses kelahiran jabang bayi. Kontraksi perut sang Ibu betapapun sakitnya, tetapi justru itulah rahasia kekuatan yang akan mendorong kekuatan bayi untuk lahir. Itulah berkah tersembunyi yang selalu hadir bersama kesulitan ataupun kesakitan.

Dari fakta-fakta sejarah hijrah, rasanya tak mungkin kalau nabi panutan umat Islam sedunia ini tak mengerti analisa SWOT seperti yang dikuasai ahli-ahli manajemen strategi. Nabi Muhammad adalah nabi yang selain sidik (jujur ilmiah), amanah (kredibel), tabligh (komunikator yang baik) juga fathonah (memiliki kecerdasan).Kekuatan ini makin berkilau tatkala berpadu dengan bimbingan Allah berupa wahyu Al Qur'an. Nah, kalau sudah begini Abu Lahab, Abu Sofyan atau yang lain.....tak akan mampu mengalahkannya.

Benarlah kata Nabi Musa, benarlah nasehat Nabi Muhammad untuk umatnya, "La takhof wa la takhzan innallaha ma'ana (jangan gentar, jangan takut. Sungguh Allah dengan ilmu-Nya bersama kita". Selamat tahun baru Hijriyah 1 Muharram 1431 H. Hakuuna matata....innallaha ma'ana.

Kamis, 10 Desember 2009

BANK HUMAZAH LUMAZAH


Sayang, tim penerjemah al Qur'an dari Depag RI tatkala menerjemahkan istilah humazah lumazah dalam surat al Humazah adalah pengumpat lagi pencela. Walaupun terjemah ini dikaitkan dengan sejumlah kisah dimasa turunnya al Qur'an (asbabun nuzul), namun rasanya tak nyambung. Padahal kalau diamati ayat berikutnya yang berbunyi: "yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung" merupakan penjelasan yang amat clear.

Humazah lumazah adalah istilah yang digunakan Allah untuk menyebut orang ataupun lembaga yang kerjanya melakukan penghimpunan harta (baca: uang) sekaligus melakukan berbagai kalkulasi agar harta atau uang itu dapat menciptakan keuntungan. Inilah yang dalam dunia bisnis dikenal istilah uang menciptakan uang.

Bank adalah penjual jasa. Dengan uang ataupun modal yang dimiliki, bank menawarkan kredit kepada nasabahnya. Dari hasil selisih margin antara meminjamkan uang dan menagih kembali uangnya maka lembaga pengumpul harta/ uang ini mendapat untung. Dan inilah yang oleh masyarakat sekarang ini sering dianggap sebagai solusi keuangan. Dengan logika seperti itu lembaga ini seolah menawarkan "mengatasi masalah tanpa masalah" seperti semboyan lembaga Pegadaian.

Adalah Robert T Kiyosaki, dengan sejumlah tulisannya yang terkenal di beberapa bukunya selalu menunjukkan bahwa sukses adalah apabila kita telah mencapai kebebasan finansial (financial freedom). Kita bukan lagi bekerja agar memperoleh uang akan tetapi uanglah yang justru bekerja untuk kita. Kalau berhasil meraih kondisi tersebut maka kita dalam tahap aman secara finansial sehingga tak mungkin miskin. Itulah manusia-manusia yang berada pada kuadran empat.

Berbeda dengan Kiyosaki, al Qur'an dalam surat al Humazah justru menganggap bahwa biang keladi ketimpangan sosial ekonomi itu akibat munculnya lembaga keuangan yang disebut humazah lumazah itu. Kebebasan finansial yang sering dianggap akan menciptakan kelanggengan kekayaan sebaliknya akan menjadi pemicu munculnya fenomena huthomah. Al Qur'an menegaskan,
"dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya";
"sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah".

Apakah gerangan huthamah?
Lagi-lagi terjemahan versi Depag RI ini terasa tak nyambung dengan permasalahan lembaga keuangan. Dalam terjemah ini huthomah itu suatu keadaan ketika manusia dibakar diatas api neraka yang panasnya sampai kehati. Padahal mestinya huthomah itu adalah rangkaian logis dari adanya konflik yang ditimbulkan adanya kesenjangan sosial ekonomi akibat maraknya humazah lumazah. Dengan kata lain, huthomah yang disebut sebagai :"(yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan" itu asalnya justru dari hati-hati manusia yang keras membatu (kal hijarah). Seperti halnya batu, hati yang sama-sama keras apabila saling berbenturan akan terpercik api. Dan itulah neraka Allah (naarullah) untuk mereka pendukung humazah lumazah.

Kehidupan yang sudah berkubang dengan humazah lumazah seperti ini akan menciptakan jebakan hutang (debt trap) yang akan "memanggang" masyarakat dalam persoalannya yang terasa semakin panjang. Maka wajar saja Allah dalam penutupan ayat ini menegaskan akhir model hidup seperti ini adalah, "(sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang". Jadi escaping the debt trap adalah sesuatu yang sulit.

Kisruh bank Century maupun bank-bank yang pernah ada bahkan juga bank-bank internasional di negara besar adalah bukti bahwa sistim humazah lumazah pasti merupakan: "mengatasi masalah dengan menimbulkan masalah".

Wallahu 'alam bi al shawab.

Kamis, 03 Desember 2009

21-12: OTHAK ATHIK GATHUK (LAGI)


Sebenarnya saya nggak begitu suka OAG (othak athik gathuk), tetapi kegiatan ini terus saja memancing rasa penasaran saya.

Adalah mas Dwiarto Setiabudi, ketika selesai "pengajian" di rumahnya dengan nonton bersama film Kiamat 2012 dilanjutkan dengan diskusi ala "saur manuk" seperti biasanya, tiba-tiba beliau nyeletuk:
"Kata bangsa Maya, kiamat itu kan 21 Desember 2012. Nah, sekarang mbok ya coba dibuka al Qur'an surat 21 dan ayatnya 12 (bulan Desember), kira-kira cocok apa enggak ya?"
Kami pun lantas pada tertawa karena hoby OAG-nya ini kumat lagi.

Walaupun dengan rasa tak percaya tetapi weladalah, surat 21 (al Anbiya') dan ayat 12 itu mengisyaratkan terjadinya bencana:
"Maka tatkala mereka merasakan azab Kami, tiba-tiba mereka melarikan diri dari negerinya."

Ayat ini seolah mengingatkan adegan pada film tersebut tentang orang-orang yang pada berlarian mencoba melarikan diri. Bahkan tokoh utama film itu pontang-panting berusaha lari dari negrinya yang hancur lebur menuju tempat lain yang lebih aman.

Lebih dahsyat lagi pada surat al Anbiya' tersebut ayat 11-nya berkata,
"Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang zalim yang telah Kami binasakan, dan Kami adakan sesudah mereka itu kaum yang lain (sebagai penggantinya). "

Dari ayat itu tampak bahwa "kiamat" versi al Qur'an tersebut masih akan ada kaum yang diselamatkan. Bukankah dalam film itu juga ada manusia yang diselamatkan mirip kisah Bahtera Nuh (Noah Ark). Kok bisa pas ya ?! Cuma masalahnya, saya tak begitu percaya kalau yang diselamatkan adalah golongan manusia seperti itu.

Menurut para pakar dari LAPAN (Lembaga Penelitian Antariksa Nasional), bencana -walaupun hanya sebatas kiamat teknologi komunikasi akibat badai matahari (solar flare), akan terjadi pada kisaran 2011-2012. Rupanya angka 11 dan 12 ini agaknya angka-angka gawat.Yang cukup menarik adalah betapa negara-negara maju itu-walau cuma fiksi, kelihatannya telah siap dengan akan munculnya bencana yang selalu unpredictable.

Nah, kalau kita malah sibuk mencari dalil tentang nonton film itu halal apa haram ya? Menonton film itu dianggap akan dapat merusak rukun iman yang ke lima. Padahal kita tahu, dengan film itu barangkali kita akan menjadi masyarakat yang sadar bencana. Bukankah justru negri kita itulah negri seribu bencana karena terletak dalam ring of fire.

Dan sudah terbukti bahwa setiap bencana datang ke negri kita maka pemerintah kalangkabut. Mungkin republik ini adalah negri tanpa persiapan. Persiapan untuk menghadapi bencana maupun yang lainnya. Kalau memang begitu, sadarkah kita bahwa negri kita itu negri asal-asalan? Sebuah negri yang "Tanpa pedoman dan tanpa ada kitab yang menerangi". Wadoouuuhh !!!