Rabu, 18 Maret 2009

YANG PENTING ISI ATAU ORANGNYA


Lima tahun yang lalu saya mengisi pengajian di sebuah kampung. Saat itu menjelang pemilu seperti sekarang ini. Tiba saat tanya jawab ada pendengar yang bertanya tentang kriteria memilih calon pemimpin bangsa. Dengan spontan saya jawab agar memilih pemimpin gunakan saja bagaimana Allah memilih para nabi dan rasulnya. Kriteria itu kelak disebut sifat wajib bagi nabi dan rasul, yaitu shidiq, amanah, tabligh dan fatonah. Mengapa kriteria itu bisa dipakai? Alasan saya karena Allah memakai kriteria itu untuk memilih yang terbaik. Oleh karena itu nabi Muhammad dijuluki al Musthafa (yang terpilih).

Selanjutnya, ketika saya mengenal blog di internet, masalah ini saya tulis di blog ini (bapaketama.blogspot.com) dengan judul "SIFAT WAJIB BAGI CALON WAKIL RAKYAT". Selengkapnya tulisan yang saya tulis pada hari Kamis 1 Januari 2008 itu saya sisipkan disini kembali agar pembaca lebih mudah membacanya :

Dalam mata pelajaran agama Islam di SD maupun SMP terdapat adanya sifat wajib bagi nabi/ rasul. Sifat wajib itu adalah sifat yang senantiasa ada dan terus melekat pada diri pribadi setiap nabi maupun rasul. Sifat tersebut merupakan keniscayaan yang menjadi prasyarat utama bagi kemunculan seorang nabi/ rasul.

Rasanya mustahil bila seorang nabi/ rasul tidak memiliki sifat itu.
Adapun sifat itu antara lain :
1. Sidiq (Jujur ilmiah)
2. Amanah (Dapat dipercaya/ mempunyai integritas dan kredibilitas)
3. Tabligh (Komunikatif)
4. Fathonah (Cerdas/ cendikiawan)
5. Syaja'ah (Berani)6. Adil

Pada saat sekarang ini, ketika kita dihadapkan pilihan pada Pemilu untuk calon DPR dan DPRD maka kiranya patokan sifat ini rasanya relevan, bila kita pakai untuk memilih calon wakil rakyat tersebut. Nha...kalau mereka tak memiliki sifat tersebut....ya nggak usah milih... He...he...hee..!!!

Seperti itulah tulisan saya tentang wakil rakyat di blog ini. Pembaca bisa mencarinya pada halaman sebelumnya.

Mengapa ini saya angkat kembali di blog ini? Karena pagi tadi (Rabu, 18 maret 2009) sehabis mengantarkan anak saya Tama, saya membaca head line di harian Republika mengangkat topik tersebut yang keluar dari mulut Wapres Jusuf Kalla (JK). Untuk lebih lengkapnya saya kutipkan berita tersebut sebagai berikut :

'Pilih Pemimpin Seperti Nabi'
Sehari setelah partai politik peserta pemilu mendeklarasikan kampanye damai, tokoh-tokoh partai mulai berkampanye di sejumlah daerah. Beragam isu yang mereka angkat dalam kampanye dan beragam bentuk kampanye yang mereka lakoni.Ketua Umum Partai Golkar, Jusuf Kalla (JK), misalnya, berkampanye di Sumatra Utara. Tapi, dia belum melakukan kampanye rapat umum. Dia memilih menyambangi Pesantren Baabussalam di Langkat, temu kader di Medan, serta menghadiri Maulid Nabi di Binjai.Pada peringatan Maulid, JK berpesan kepada masyarakat agar berhati-hati memilih pemimpin. Dia menyarankan masyarakat memilih pemimpin yang memenuhi empat kriteria umum kepemimpinan Nabi Muhammad SAW, yaitu amanah, fathanah, tabligh, dan shiddiq. Kriteria itu, kata JK, diperlukan karena para pemimpin yang dipilih haruslah dapat dipercaya, dapat mengemban tugasnya dengan baik sesuai aspirasi rakyat, dan tentu saja cerdas. ''Pilih pemimpin seperti itu, agar rakyat sejahtera dan maju,'' kata JK.


Tulisan saya dan ceramah JK, secara tinjauan substansi sama. Tetapi kata istri saya ada dua hal yang membedakan .
1. Nasib saya (Bapake Tama) berbeda jauh dengan JK
2. Tulisan saya tak ada satu koran pun yang membuat head line besar-besar, walaupun muncul lebih dulu. (Harap maklum, lha wong bukan siapa-siapa).

Mendengar ucapan itu, saya pun tersenyum dan teringat ucapan sahabat Ali bin Abu Thalib r.a. "Perhatikanlah apa yang menjadi isi (materi) pembicaraan. Dan jangan memperhatikan siapa yang menyampaikannya".

Namun seiring usia bertambah, saya meyakini kalau ucapan itu hanya cocok untuk mencari kebenaran dalam arti luas. Untuk masalah politik seperti akhir-akhir ini, saya justru ingin membalik logika ucapan sang Khalifah ke IV itu dengan :
"Nggak penting tentang apa isi omongan (pembicaraan), justru yang penting orangnya".

Dan "rumusan" ini pun ternyata ada benarnya. Karena menurut al Qur'an, "Innaha kalimatun huwa qailuha (sesungguhnya kata itu sangat bergantung pada pembicaranya)".

Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar: