Rabu, 16 Januari 2013

PERBAIKI KAPALMU !

           
          SAHABAT Abu Dzar al-Ghifari tidak sedang memiliki kapal ketika nasehat itu diberikan kepadanya oleh Rasulullah SAW. Maka bisa dipastikan, ucapan beliau itu adalah sebuah metafor yang musti haruslah dipecahkan maknanya. Dalam Alquran maupun Alhadits, pemakaian istilah safinah maupun fulk yang semuanya berarti kapal atau perahu banyak kita temukan. Nabi Nuh bahkan sangat terkenal dengan peristiwa banjir besar dan pembuatan kapal. Rasulullah sendiri kadang-kadang menyebut Madinatul Munawarah ibarat sebuah kapal besar.          
          Penggunaan istilah kapal, bahtera ataupun perahu juga dapat ditemukan dalam bahasa keseharian kita. Wejangan bagi sepasang pengantin baru sering digunakan istilah bahtera untuk menunjuk sebuah keluarga.
          Ada beberapa tafsir yang mencoba mengurai makna tersembunyi dari kapal. Tafsir pertama menyebut bahwa kapal yang dimaksud adalah niat. Perbuatan apapun (termasuk beribadah), apabila niatnya rusak maka hasilnya akan rusak pula. Shalat yang seharusnya diniatkan hanya untuk mengabdi kepada allah SWT, akan menjadi rusak apabila niatnya untuk pamer (riya’) agar disebut sebagai orang saleh. Maka, perintah perbaikilah kapalmu dapat berarti perbaikilah niatmu!
          Tafsir yang kedua menjelaskan bahwa kapal itu merupakan iman, takwa dan amal saleh. Alasannya, ketiganya merupakan sesuatu yang amat penting dalam menghadapi berbagai problematika kehidupan. Hidup akan mencapai tujuannya bahagia di dunia dan akhirat apabila ketiganya tidak ditelantarkan. Perbaikilah kapalmu berarti perbaikilah iman, takwa dan amalmu!
          Kapal, merupakan wahana yang akan mengantarkan pemakainya mengarungi lautan untuk menuju pantai cita. Oleh karena itu, wahana  tersebut tidak boleh bocor atau rusak. Apabila kehidupan adalah sebuah tahap awal perjalanan menuju akhirat, maka harus dipastikan bahwa perjalanan kita akan selamat sampai tujuan. Supaya perjalan selamat, marilah kita perbaiki niat, iman, takwa dan amal saleh kita sebaik-baiknya.
          Selain kapal yang harus diperbaiki, Rasulullah SAW juga menjelaskan kelengkapan lainnya. Berikut sabdanya seperti yang ditulis oleh Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kitab Nashaihul Ibad: “Wahai Abu Dzar perbaikilah kapalmu, sesungguhnya lautan itu sangat dalam. Ambillah bekal yang cukup karena perjalananmu sangat jauh. Ringankanlah bebanmu karena rintangan-rintangan itu sangat sulit. Dan ikhlaskanlah dalam beramal karena yang menilai baik dan buruk adalah Allah yang Maha Melihat.”

Tidak ada komentar: