Selasa, 19 November 2013

HUKUM SEBAB AKIBAT

                KARENA hilang sebuah paku lepaslah tapal kuda. Karena lepas tapal kuda, kuda tak bisa berlari. Karena kuda tak bisa berlari, pesan tak tersampaikan. Karena pesan tak tersampaikan, jadilah kalah perang. Karena kalah perang, negara hancur lebur. Itulah kisah yang konon pernah populer di masa perang dunia I dan II. Dalam kisah tersebut terkandung maksud agar setiap orang (prajurit) hendaknya dapat menjalankan tugas sebaik-baiknya. Ya, walaupun hanya sebuah paku sekalipun, perannya tak boleh diabaikan.
                Di alam ini, berlaku berbagai hukum yang banyak sekali. Salah satunya adalah hukum sebab-akibat.  Hukum sebab-akibat lebih mudah dipahami, bila yang menjadi penyebabnya jauh lebih besar. Sebuah pernyataan,  “Ketika gunung Merapi meletus penduduk kota Yogyakarta  menjadi pilek”, lebih mudah dipahami dibanding bila pernyataan itu dibalik, “Ketika penduduk Yogyakarta  pilek, maka  akibatnya gunung Merapi meletus”. Tetapi, dalam ilmu cuaca (Klimatologi) fenomena ini bisa dipahami. Dalam sebuah teori yang disebut Butterfly Effect dinyatakan, “Karena kepak sayap kupu-kupu di Brazilia maka terjadilah Tornado di Amerika”.
                Saling berkait, tidak berdiri sendiri dan saling mempengaruhi itulah esensi dari hukum sebab-akibat. Sang Pencipta alam telah memberi kita bumi, yang terus menerus berputar pada porosnya (rotasi), yang mengakibatkan terjadinya pergantian malam dan siang. Dalam Alquran dinyatakan,  “Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha” (QS. Alfurqan: 47). Begitu juga Tuhan kita yang Maha pemurah, telah memberi kita bumi yang selalu berputar mengelilingi matahari (revolusi). Proses itu mengakibatkan terjadinya silih bergantinya musim, yang amat bermanfaat bagi seluruh makhluk.
                 Allah SWT adalah sebab dari segala sebab (causa prima). Dalam Alquran Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya jadilah,  maka jadilah ia” (QS. An-nahl : 40).  Sebagai pencipta alam semesta (khaliqul alam), Bagi-Nya tak ada yang mustahil. Tak ada yang sulit. Dan, semuanya itu untuk diberikan kepada kita, manusia. Walaupun demikian,  Allah SWT senantiasa mengingatkan kita untuk selalu bersyukur, baik itu melalui shalat maupun berbagi (berkorban). “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah”, (QS. Alkautsar: 1-2).

Tidak ada komentar: