Senin, 04 November 2013

Ikhlas dan Kesederhanaan

 
            Akhir-akhir ini, para tokoh elite politik kita gemar melontarkan berbagai pernyataan. Lontaran pernyataan tersebut berupa kritik, kecaman bahkan terkadang fitnah. Konon semua itu marak karena tahun 2013-2014 ini adalah tahun politik, tahun yang tak lama lagi bangsa Indonesia akan melaksanakan Pemilu.
            Di negri Pancasila ini model berpolitik dengan menghalalkan segala cara jelas ditolak. Akan tetapi faktanya di berbagai mass media, rakyat disuguhi sebuah tontonan yang tidak elok. Terkesan antar para elit politik saling regejegan (gontok-gontokan). Sumpah pemuda yang diikrarkan tahun 1928 seolah hanya sayup-sayup terdengar. Para elite saling berlomba menebar citra,        saling rebut simpati, kasak-kusuk, tebar fitnah dan sogok sana-sini demi cita-cita ingin menjadi pemimpin dan penguasa. Ujung-ujungnya semua bermuara untuk  mendapatkan uang sebanyak-banyaknya. Uang dan kekuasaan telah menjadi ideologi dan tujuan hidup.
            Nun jauh di sana, seorang presiden negara kecil Uruguay memberi contoh kepada kita, bahwa menjadi pemimpin atau penguasa bukanlah sebuah kemewahan. Dengan tulus ikhlas  presiden Jose Mujica menyumbangkan  90 % gajinya untuk beramal. Baginya jabatan menjadi presiden adalah pengabdian tanpa pamrih. Presiden yang berusia 77 tahun itu mencukupkan dirinya ke kantor kepresidenan hanya  dengan mobil butut yang sudah tua. Tetapi meskipun sederhana, prestasi presiden yang digelari  Presiden Termiskin di Dunia  ini patut dibanggakan. Karena keteladanan dalam kesederhanaan dan keikhlasannya, rupanya menginspirasi  pemimpin-pemimpin lain dibawahnya,  untuk tidak hidup bermewah-mewah. Hasilnya, negara Uruguay mengalami penurunan tindak pidana korupsi yang sangat signifikan.
            Kita hidup di negara Pancasila. Banyak agama hidup subur di tempat ini. Anehnya, justru Jose Mujica yang nota bene atheis, mampu memberi contoh moral, keikhlasan dan kesederhanaan. Membaca biografi Jose Mujica, terngiang kembali nasehat Imam al-Ghazali tentang pentingnya ikhlas dalam segala hal. "Semua orang akan rusak kecuali orang-orang yang berilmu, semua orang yang berilmu akan rusak kecuali orang yang beramal, semua orang yang beramal akan rusak kecuali orang yang Ikhlas". Ya, dengan ikhlas semuanya akan menjadi lebih sederhana.

Tidak ada komentar: